Rabu, 06 Juli 2016

Yukata, Set Pakaian Mandi ala Jepang

Lain ladang lain ilalang, lain lubuk lain pula ikannya”, sepertinya peribahasa ini cocok mengambarkan kebudayaan yang ada di tiap daerah, bahkan negara satu dengan yang lainnya. Indonesia negeri tercintaku, punya begitu banyak kebudayaan di tiap-tiap daerahnya, yang punya ciri khas tertentu.

Begitupun dengan negara lain, mereka punya ciri khas tertentu yang menggambarkan jati diri bangsanya. Seperti Indonesia yang memiliki pakaian dengan corak batiknya, ada juga pakaian adat yang berbeda dari ujung barat sampai ujung timur nusantara. Begitupun Jepang, di sana pun mempunyai pakaian khasnya yaitu Kimono, dan ada pula Yukata. Nah di postingan kali ini, saya ingin menggali tentang apa itu Yukata.

Apa sih Yukata itu?
Yukata sendiri sebenarnya diartikan sebagai baju sesudah mandi. Yukata sendiri termasuk jenis kimono yang dibuat dari bahan kain katun tipis tanpa pelapis. Dengan tujuan agar sirkulasi udara berjalan baik, dan pemakaiannya akan merasakan sejukdi sore hari atau malam hari setelah mandi atau berendam air panas.

Istilah yukata berasal dari kata yukatabira. Awalnya katabira ini sebutan untuk sehelai kimono dari bahan *kain rami. Pakaian ini dipakai sebagai pakaian berendam pada pertengahan *zaman Heian. Hingga akhirnya sekitar *zaman Azuch-Momoyama, pakaian ini dipakai setelah mandi. Dan sering juga dipakai untuk menuju pemandian umum. Hingga pada akhirnya masyakarat *zaman Edo menyingkat yukatabira dengan sebutan yukata, meskipun saat itu yukata ini masih dianggap pakaian tak sopan digunakan untuk kegiataan sehari-hari, karena peruntukannya saat ketika mandi atau pakaian tidur saja.

*kain rami merupakan jenis kain yang mudah diperas dan cepat kering. Terbuat dari serat tanaman boehmeria nivea. Serat ini tahan akan bakteri dan jamur. Ciri fisiknya warnanya putih dan berkilau, tidak mudah berubah warna, teksturnya nyaman dan baik untuk diolah menjadi bahan tekstil.

*zaman Heian merupakan zaman berkisar tahun 794-1185. Zaman ini dianggap sebagai zaman keemasan istana kekaisasaran dan seni di istana khususnya puisi dan sastra.

*zaman Azuch-Momoyama merupakan zaman berkisar tahun 1573-1603. Zaman ini disebut juga zaman Shokuho. Ada pula yang menyebut zaman Osaka, karena pemerintahan saat itu berpusat di Osaka. Ada pula yang menyebutnya zaman Sengoku.

*zaman Edo merupakan zaman berkisar tahun 1603-1867. Zaman ini juga dikenal sebagai awal zaman modern di Jepang.

Corak dan Warna Yukata
Di masa sekarang, yukata lebih sering dibuat dari bahan katun, atau bahan tekstil campuran poliester. Yukata di zaman sekarang punya corak dan warna yang beranekaragam, mengikuti selera masyarakat saat ini. Warna dasar yang sering digunakan adalah warna cerah atau bisa juga warna pastel dengan corak bunga sakura, seruni, poppy atau bunga-bunga musim panas atau ikan mas koki atau bahkan karakter anime Jepang. Untuk yukata yang dipakai orang dewasa umumnya lebih gelap corak dan warnanya.

Yukata sendiri ada yang untuk pria dan wanita. Namun umumnya, lebih dikenal dipakai wanita dengan corak tersebut di atas. Untuk corak pria, lebih cenderung ke corak dan warna gelap hita, biru tua atau ungu.

Yukata untuk pria dan wanita umumnya dibedakan dari corak dan warnaya dan juga cara pemakaiannya. Secara umum, yukata bisa digunakan langsung, tanpa mengenakan pakaian dalam terlebih dulu atau bisa juga mengenakan pakaian dalam, tergantung kebutuhan si pemakainya. Perbedaan umum pemakaian yukata untuk pria dan wanita, untuk pria, si pemakai cukup memakai celana dalam. Sedangkan untuk wanita, hanya perlu pakaian dalam lapis pertama.

Yukata memiliki pola yang sangat sederhana, dijahit tanpa kain pelapis di bagian pinggul atau pundak. 

Perlengkapan untuk memakai yukata, antara lain:
  • Setelah yukata terusan dari atas hingga bawah.
  • Rok panjang (susoyoke), sebagai pakaian dalam berwarna putih polos.
  • Pakaian dalam (hadajuban).
  • Tali pinggang (koshihimo), untuk mengencangkan kain berlebih di bagian pinggang.
  • Kain sabuk pengikat (datejime)untuk mengencangkan kain di bagian perut.
  • Obi untuk mengencangkan yukata ke badan. Obi ini ada yang berbentuk simpul kupu-kupu atau dikenal simpul bunko.
  • Geta, alas kaki ketika memakai yukata.
Sangat disarankan ketika memakai yukata, pilih ukuran setelan yang pas dengan badan pemakai, agar terlihat bagus. Yukata pun harus dipakai erat, tidak diperbolehkan memakai yukata longgar di di atas bahu.

Yukata di zaman sekarang ini lebih sering dipakai ketika acara tertentu atau festival (*matsuri), seragam tim seni atau budaya Jepang, meski tidak jarang juga yang masih memakainya ketika musim semi atau musim panas. Tidak jarang juga hotel-hotel di Jepang masih menyediakan set yukata, sebagai pakaian mandi atau pakaian tidur. Namun pihak hotel melarang menggunakan yukata ketika jamuan makan malam.

Ketika musim panas ada festival (*matsuri), ketika itu banyak ditemukan wanita, pria bahkan anak-anak memakai yukata yang berwarna-warni.

*matsuri berarti hari raya atau festival. Biasanya disponsori oleh kuil, diadakan bukan bukan yang bersifat kepercayaan. Perayaan ini dihubungkan dengan perayaan panen misalnya. Pada matsuri ini, sama seperti halnya festival di negara lain, banyak pedagang yang menjual berbagai macam barang, suvenir atau makanan seperti takoyaki, permainan-permainan, kontes karoke, pertandingan sumo serta hiburan lainnya. Beberapa matsuri yang sering diajakan di Jepang, Sheijin Siki (upacara tahunan pemerintah lokal untuk mengundang penduduk berusia 20 tahun, sebagai tanda cukup umur), Hinamatsuri (perayaan tiap tanggal 3 Maret, untuk mendoakan pertumbuhan anak perempuan), Hanami (festival menikmati keindahan bunga, terjadi di akhi Maret hingga awal April), Tanabata (festival bintang, asli berasal dari legenda China, menceritakan tentang pasangan kekasih bintang penenun dan pengembala domba yang hanya dapat bertemu sekali setahun, yakni pada malam ketujuh bulan ketujuh. Warga Jepang bisa menuliskan permohonan asmara untuk digantungkan di ranting bambu, bersama ornamen kecil) dan masih banyak matsuri lainnya.


Beda Yukata dan Kimono
Bagi saya yang awam, melihat yukata dan kimono itu nampak sama saja. Tapi ternyata, ada perbedaannya. Baik dari satu stel pemakaiannya itu sendiri atau peruntukkannya.

Hal yang pasti, harga untuk satu set yukata lebih murah dibandingkan satu set kimono. Karena jelas, penyusun yukata lebih simpel seperti yang sudah dijabarkan di atas. Masih dari penjabaran di atas, untuk memakai yukata bisa langsung pakai, namun untuk kimono dibutuhkan pelapis dengan lipatan yang lebih tebal. Juntaian kain lengan di kanan-kiri untuk kimono itu lebih memanjang hingga menyentuh lantai.

Penggunaan kimono juga untuk acara yang lebih resmi seperti pesta perkawinan, acara minum teh dan acara resmi lainnya, dibandingkan yukata yang penggunaannya lebih santai.


Yukata kini sudah sangat dikenal masyarakat dunia, bahkan di Indonesia. Yukata sudah tidak asing, namun penggunaannya di Indonesia hanya ketika ada festival tertentu yang ada hubungannya dengan negeri sakura, misalnya festival anime atau acara khusus tertentu di hotel-hotel bertema Jepang.

Namun untuk penggunaan sehari-hari diaplikasikan di masyarakat di Indonesia, sepertinya akan ribet, karena di Indonesia sendiri masyarakatnya lebih memilih kepraktisan. Akan repot ketika mau mandi atau sesudah mandi pakai pakaian jubang memanjang seperti itu. Kemudian suhu Indonesia yang tropis tidak cocok menggunakan pakaian model seperti itu. Itulah kecocokan dari peribahasa, "lain padang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya."

Sepertinya saya cukupkan, untuk catatan seputar yukata. cpr.