Cap Buruk Kita di Mata Negeri Tetangga by Mas Rudy

Saya dibuat terhibur atas postingan blogger Mas  Rudy. Ketika dia sharing pengalaman yang mengajak kita untuk tidak mengikutinya. Saya ingin berkomentar di sana tapi tidak disediakan kolom komentarnya di sana. Jadi saya tuliskan di sini saja.

Dikisahkan Mas Rudy ini sedang magang kerja selepas lulus kuliah di Australia, diceritakan tahun 2001. Dia tinggal di Kota Melbourne. Kota yang jauh lebih baik dibandingkan Jakarta untuk segala fasilitasnya. Selama di sana Mas Rudy pergi bekerja dengan menggunakan transportasi umum, yaitu kereta dan trem. Untuk menggunakan moda transportasi itu, calon penumpang harus punya tiket dong tentunya. Mas Rudy menggunakan tiket berlangganan (bulanan) untuk membiayai aktivitas comuternya setiap hari, all in one ticket. Berbentuk kartu voucher pulsa yang terbuat dari kertas, dimana ada chip tipis dibagian belakang kartu untuk menyimpan data.

Setiap hari, Mas Rudy ini berangkat dari stasiun kecil yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Selama ini Mas Rudy menggunakan stasiun ini, dia tidak pernah melihat petugas di sana. Berbeda dengan di Indonesia, petugas berjaga dimana-mana. Bahkan  petugas penjaga peron pun tidak ada. Tiket dapat dibeli di minimarket.

Sama seperti di Indonesia, setiap mau masuk ke peron stasiun ada loket tiket. Di sana pun begitu, hanya saja portalnya tidak tinggi. Calon penumpang harus memasukan tiket ke dalam mesin tiket kemudian portal akan terbuka. Tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Melihat situasi stasiun yang tanpa petugas, ternyata ada niat 'nakal' Mas Rudy ini untuk melewati portal tanpa memasukan tiket. Karena, selama ini di kereta pun tidak pernah diperiksa tiketnya. Niat ini pun diwujudkan, dan lolos, aman terkendali. Mas Rudy pun berhasil naik kereta dan akhirnya tiba di stasiun tujuan.

Tiba di stasiun tujuan, stasiun yang ukurannya lebih besar. Di sana diceritakan cukup ramai situasinya dan di sana banyak terdapat petugas. Di sanalah Mas Rudy mulai merasakan adrenalinya terpacu, karena situasi yang jauh berbeda dengan stasiun keberangkatan. Mau tidak mau, cara 'nakal' yang tadi dilakukan tidak akan berhasil dilakulan di sini. Ketika akan keluar, penumpang harus memasukan tiket ke mesin, baru portal terbuka dan penumpang bisa keluar stasiun.
"You must be from Indonesia?"
Tiba akhirnya giliran Mas Rudy di depan portal, dia, dia coba memasukan tiketnya namun tidak bisa. Sampai membuat antrian penumpang yang akan di belakangnya mengular. Adrenalinya terpacu, dikisahkan keringat biji jagungnya keluar. Akhirnya datang petugas polisi mendatanginya, dan dibawalah Mas Rudy ini ke ruang introgasi.

Dan, di sinilah yang membuat saya pembaca tulisan Mas Rudy tertawa, tersindir dan seakan-akan menohok hati, dan yang jadi alasan saya ingin berkomentar dan membagikan kisah Mas Rudy ini..
Petugas yang mengitrogasi Mas Rudy berkata, "You must be from Indonesia?" #jegger #duaar #bleggur

Kalimat yang sederhana tapi menyakitkan, bagi saya yang membaca kisahnya saja dibuat 'tertohok' dan sekaligus tertawa. Dan membuktikan, begitu parahnya perilaku bangsa kita ini sampai "kiprah" nya terdengar sampai negeri tetangga. #aib.

Pada akhirnya, Mas Rudy pun dimaafkan atas kenakalannya itu dan dibiarkan keluar stasiun. Tentunya tidak dengan mudah, janji untuk tidak melakukan lagi jadi jaminan.

Menarik sekali kisah Mas Rudy ini, bisa jadi pelajaran buat kita, untuk bagaimana pun patuhilah segala aturan yang sudah dibuat, apapun itu ada petugas atau tidak, ada cctv atau tidak, jika aturannya mengatur demikian, lakukanlah itu dengan senang hati, dimana pun kita berada, apalagi di luar negeri. Karena di sana, kredibilitas kita sebagai warga negara dipertaruhkan. Betapa malunya, ketika cap indisipliner, tidak taat aturan melekat dimuka kita, ketika orang di sana tahu kita orang Indonesia.
Kisah inspiratif yang tidak perlu dicontoh kelakuannya, tetapi makna dan pesan-pesan moralnya yang perlu kita ambil dan lakukan dengan baik. Sama seperti judul postingan di blog Mas Rudy ini TIDAK PATUT DITIRU. Kisah lengkapnya bisa berkunjung ke blog Mas Rudy, cukup klik judul postingan Mas Rudy tadi, akan dibawa langsung ke blog Mas Rudy.

Terima kasih mas, sudah berbagi pengalaman berharganya. Saya sekalian ijin men-sharingkan kembali kisahnya di sini. Saya tidak menemukan kolom komentar di akhir postingan Mas Rudy, di sini saya jadi bisa panjang berkomentar, sekali lagi terima kasih. Salam blogger ;) keep posting Mas Rudy Dewanto.cpr.

Komentar