Musim Mudik 2014: 28 -31 Agustus 2014

Rasanya sudah lama sekali tidak memainkan jari-jemari di papan huruf atau keyboard My Lenov. Kesempatan luang ini tidak saya sia-siakan untuk mencatat sesuatu yang sudah saya lakoni di hidup ini #ahay. Saya ingin berbagi pengalaman seputar mudik di tahun 2014, mudik hari raya Idul Fitri 2014, yang bertepatan di akhir bulan Juli 2014. Kalau boleh saya bilang, libur lebaran tahun ini relatif lebih lama dibandingkan tahun sebelumnya. Kalau tidak salah saya hitung, seminggu saya menikmati waktu berkumpul bersama keluarga di Cirebon, kampung halaman. Secara tahun lalu, hari raya saya nikmati bersama keluarga, karena saat itu posisi masih “nganggur” hehe.

Cuti bersama kantor dimana saya bekerja sudah dimulai sejak tanggal 26 Juli 2014, tepat hari itu adalah akhir pekan, Sabtu. Sepulang kerja saya langsung angkat koper untuk pulang kampung. Berhubung tidak dapat angkutan umum, travel pribadi jadi pilihan saya untuk menghantar menuju kampung halaman. Pada libur hari raya kali ini, yang ingin saya bagikan adalah begitu luar biasanya kemacetan di jalur mudik. Memang sih, hampir setiap musim mudik, namanya macet tidak bisa terhindarkan. Namun yang saya rasakan dari tahun ke tahun, rasanya macetnya itu tambah parah. Semua pemudik membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai kampung halamannya, waktu yang terbuang di jalan ini berkali-kalipat lamanya. Kemacetan yang luar biasa ini disebabkan tidak lain dan tidak bukan karena volume kendaraan yang semakin meningkat. Terutama adalah kendaraan roda empat. Saya pernah mencatat pada mudik tahun 2012, dari Jakarta menuju Cirebon membutuhkan waktu 22 jam. Di tahun 2014 ini waktu itu bisa lebih lama lagi, jika kita tidak tahu jalur alternatif.

Catatan mudik saya tahun ini dimulai dari berangkat dan pulang. Serta catatan sub mudik selama masa libur, saya dan keluarga sowan ke nyekar ke makam eyang kakung dan eyang putri di Semarang. Catatan pertama adalah keberangkatan menuju Cirebon. Travel yang saya pesan menjemput saya sekitar pukul 17.00 WIB. Mobil pribadi Luxio APV langsung meluncur menjemput penumpangnya, baru sekitar pukul 18.00 WIB, mobil start keluar Jakarta. Dalam perjalanan supir travel ini selalu menjaga komunikasi dengan rekan supir lainnya yang sudah lebih dulu berangkat. Rekannya menginformasikan kemacetan parah di keluar tol Cikampek.Dari info ini supir travel yang saya tumpangi langsung putar haluan mencari alternatif jalan lain. Beberapa kali mencoba alternatif rute, hasilnya tetap sama “macet” dimana-mana. Akhirnya  dipilihlah jalur tengah, melalui Subang, Purwakarta, Majalengka. Jalur yang kami pilih ini pun tak lepas dari macet parah. Bahkan saat sudah masuk Majalengka, macet ini sampai tidak bergerak beberapa jam, stug di jalan. Ini macet yang luar biasa.  Tapi saya merasa lebih beruntung, meskipun macet, jalur alternatif ini mampu memotong waktu tempuh. Tepat pukul 05.00 WIB sudah masuk wilayah Kabupaten Cirebon. Jadi bila ditotal waktu tempuh dari keluar Jakarta hingga masuk Kabupaten Cirebon, kurang lebih memakan waktu 11-12 jam. Ini jauh lebih baik dibandingkan perjalanan mudik saya di tahun 2012. Satu hal yang bisa diambil dari perjalanan mudik ini, informas mengenai jalur alternatif dan informasi real time wajib diperhatikan untuk memilih rute yang efektif agar tidak terlalu membuang waktu, energi dan bahan bakar.

Mudik di tahun 2014 ini rute yang saya tempuh bukan saja Jakarta – Cirebon PP, namun juga Cirebon – Semarang PP. Setelah sampai di Cirebon, tepatnya hari raya kedua, saya dan keluarga pergi ke Semarang dengan mobil pribadi. Menyenangkan di mudik rute kedua ini, karena saya diberi kesempatan membawa kendaraan. Ya ini rute terjauh saya berkendara dengan mobil. Sejak saya bisa mengendarai mobil tahun lalu, tepat setahun ini saya dapat kesempatan berkendara dengan jarak yang cukup jauh, ya membawa anggota keluarga pula. Pengalaman pertama ini tidak membuat saya gugup, karena di samping saya sudah ada mentor yang selama ini mengajari saya menyetir mobil. Kebetulan mobil yang saya bawa cukup kompak, yakni Splah, sehingga tidak ada kesulitan berarti yang saya alami. Menyenangkan ternyata mudik sambil menyetir mobil sendiri, asal tidak macet parah. kebetulan rute yang saya lalui relatif lancar, kemacetan terjadi di Pemalang, ya di jembatan Comal yang tepat saat musim mudik mendapat musibah “ambles”. Perjalanan Cirebon – Semarang PP berjalan dengan baik, dan kami berangkat dan pulang dengan selamat tanpa kekurangan satu apapun.

Nah yang ketiga ini adalah arus balik. Libur telah usai, waktunya kembali ke aktivitas. Tujuannya sekarang adalah kembali ke Jakarta. Kesalahan saya adalah tidak mempersiapkan akomodasi kepulangan. Dari kehabisan tiket kereta, travel. Mau naik bus, pasti akan berhari-hari baru sampai Jakarta dengan kondisi jalanan pantura yang macet gila. Kebetulan ada rekan kerja yang sedang dalam perjalanan menuju Jakarta dengan motor, dia start dari kampung halamannya di Kebumen, jawa Tengah. Kemacetan ternyata terjadi dari arah Jawa Tengah. Teman saya berangkat dari Kebumen, hari Sabtu (3/7) pukul 10.00 WIB baru sampai Cirebon pukul 18.00 WIB. Teman saya ini sempat beristirahat, makan dan kami baru melanjutkan perjalanan menuju Jakarta sekitar pukul 20.00 WIB. Start perjalanan keluar Kota Cirebon tidak ada masalah, masuk wilayah Kabupaten Cirebon kemacetan sudah mengular, luar biasa. Saya berharap kemacetan tidak akan lama, ternyata sepanjang perjalanan dari Kabupaten Cirebon sampai ibukota macet tidak lekang termakan waktu. Kendaraan hanya jalan setapak demi setapak, terutama kendaraan roda empat atau lebih. Untuk motor masih bisa mencuri celah jalanan yang ada, bahkan bahu jalan dipakai untuk melintas. Otomatis debu pasir yang ada di bahu jalan semua terangkat dan membuat jalanan jadi hujan debu, belum lagi ditambah asap kendaraan yang menjadikan polusi udara di malam hari. Kondisi fisik saya saat itu memang sedang tidak fit, akibat polusi ini membuat kondisi fisik semakin drop. Akhirnya ketika saya sampai Jakarta, saya diagnosa terkena ISPA. Butuh waktu tiga minggu untuk sembuh, sungguh terlalu. Tapi setidaknya saya bisa merasakan jadi korban abu vulkanik. Karena kemacetan yang begitu panjang, membuat kami lelah, terutama rider yang membonceng saya. Kondisi fisik yang lemah membuat saya tidak bisa jadi rider pengganti. Akhirnya kami memutuskan istirahat di rest area di pinggir jalan, warung kecil. Di sana kami sempat ketiduran selama empat jam. Harapannya setelah bangun jalanan lebih lancar ternyata tidak, jalanan malah makin padat. Itu benar-benar gila!!! Pukul 04.00 WIB kami masih di Patoek Besi.

Awalnya sempat kawatir, jam berapa sampai Jakarta, sedangkan hari sudah berganti Senin (4/8). Tapi kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, entah mau sampai jam berapa di Jakarta. Senin adalah hari kerja setela libur, dan tidak diperkenankan menambah libur. Akhirnya setelah peralanan yang panjang itu, tepat jam 10.00 WIB kami masuk Jakarta, dan langsung menuju kantor. Dengan kondisi tidak berbenah, kami tetap berangkat kantor, karena desikasi pekerjaan. Meski pada akhirnya karena ini kami harus tepar.

Inilah catatan mudik saya di tahun 2014, mudik lebaran yang luar biasa. Pengalaman macet berjam-jam di jalan sudah dua kali saya alami, disarankan kepada siapapun, apabila akan melakukan mudik hari raya seperti ini, pastikan sebulan sebelumnya, pesanlah tiket kereta api, gunakan moda transportasi itu, agar mudik mu aman terkendali dan tanpa beban kemacetan serta kelelahan dalam perjalanan. Karena kereta api sekarang ini adalah moda transportasi primadona, ketika jalan raya tak mampu lagi menampung volume kendaraan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Semoga demikian, sampai jumpa pada catatan perjalanan mudik tahun depan. Sekian.

Komentar