Update Jurnal Perawatan Pasien TB di Instalasi Kesehatan Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur

Saya mau share lagi update kelanjutan perawatan pasien TB yang pernah saya posting dipostingan sebelumnya. Untuk jadi informasi second opinion buat sesama pasien TB, supaya gak bingung, karena sulit juga dapat informasi mengenai pengalaman pengobatan pasien TB. 


Jadi untuk obat saya tidak update lagi, obat yang diberikan selanjutnya adalah obat dari pabrikan Kimia Farma, diberikan secara bertahap memang, tidak langsung gelondongan, diberikan dengan durasi itungan mingguan (bisa 2 week / 3 week), obatnya dari KF, tidak lagi dari Lupin. 

Ilustrasi, gambar diambil dari Google

Kemudian update pengobatannya seperti apa, pengobatannya adalah rutin, dimana setiap jam 08:00 pagi minum obat dan pada jam yang sama itu juga obat diminum tepat waktu. 

Menyoal efek samping, efek samping standar obat secara umum muncul dan dialami oleh pasien. Hanya efek tambahannya adalah asam lambung pasien jadi naik, efeknya pasien harus dipaksa oleh tubuhnya sendiri untuk sering makan, walaupun perutnya dirasa masih kenyang. 

Untuk batuk² nya berangsur-angsur menurun, frekuensi batuk menurun sih, kemudian gejala sesak dan paru² sesek, bunyi ngik² juga berkurang drastis. Tapi tidak berarti hilang batuknya, oh tentu tidak. 

Jadi batuk itu masih, jika si pasien telat makan, batas waktu makan bertahan  tanpa makan itu 60 menit, nah lepas dari itu pasien akan mulai batuk², jika diisi makan batuk berhenti dan siklus bergerak begitu terus. 

Akhirnya menganalisa sendiri, ini batuk lebih disebabkan asam lambung, karena tenggorokan dan lidah pasien jadi seperti teriritasi. Namun situasi ini tidak ditanggapi oleh tenaga medis, tenaga medis menganggap itu efek obat TB. Iya memang betul efek obat TB, namun tenaga medis tidak mengobati masalah lambung pasien. Padahal masalah lambung pasien ini bikin pasien drop dan terganggu. 

Masalah ini membuat pasien gampang lelah dan tidak bisa beraktifitas normal, karena lebih ke asam lambung, jadi lambung itu memaksa pasien untuk terus makan, makan dan makan, supaya ada sesuatu yang perlu untuk digiling. 

Sempet ke Faskes #1 untuk mendapatkan obat lambung, diberikan untuk 3 hari, oke itu lebih baik tapi setelahnya kembali lagi. Namun tidak ada penanganan dari tim kesehatan Puskesmas unit TB. 

Itu dia beberapa penjelasan terkait bagaimana perkembangan dari pengobatan TB yang dilakukan, langsung bersumber dari pasiennya. 

Ada pertanyaan menggelitik di sini, tolong dijawab: jadi saya punya dua info pasien TB sebelumnya yang pernah divonis TB, mereka melakukan pengobatan tapi koq kenapa efek samping obatnya tidak seperti yang sekarang ini. Efek samping pengobatan TB saat ini, sampai membuat si pasien ini memilih tidak mau melanjutkan pengobatan. Sedangkan pengobatan jaman dulu masalahnya bukan di efek samping tetapi lebih kepada ketepatan waktu minum obat, entah lupa atau lalai, sehingga jam minum obatnya tidak tepat sehingga efektifitas obat tidak optimal. Saya tidak tahu apa memang ini masalahnya ada pada obat, dimana obat yang sekarang itu formula baru dengan maksud agar lebih efektif membasmi bakteri TB yang bermutasi atau ini obat generasi baru yang tengah diujicobakan pada manusia, untuk mendapatkan formula terbaik, hingga pada saatnya nanti ketika efek obat TB sudah tidak lagi berefeksamping parah, barulah dijual atau dipasarkan secara berbayar, tidak lagi gratis seperti saat ini. Ini pikiran buruk saya saja melihat respon mantan menteri kesehatan sebelumnya yang menyangsikan program pengobatan gratis dari asing, seperti ada maksud dan tujuan terselubung di dalamnya. 

Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari pernah dengan tegas dan terbuka menolak vaksin TBC yang dicanangkan oleh asing, karena lebih memilih penanganan dengan cara lain dan menghindari keterlibatan pihak asing, karena takut dianggap hanya sebagai kelinci percobaan. Mantan menteri tersebut akhirnya lengser dan seperti ditimpakan kasus² lain supaya ybs. hilang peredaran. Meskipun setelahnya program kesehatan yang didanai asing tetap dilaksanakan, tanpa mempertimbangkan hal lain dari tujuan terselubung pihak asing pada negara sedang berkembang. 

Karena begini, jika manusia² yang sakit tidak diobati dengan obat farma, maka industri farmasi akan mati dengan sendirinya. Memang obat farma itu gak baik dari sisi efek sampingnya, namun tidak banyak dokter yang berdiri pada posisi netral, tetap menganjurkan obat untuk masalah² serius dan memilih juga membuat pasien sehat dengan pola hidup. Karena lebih banyak dokter menyarankan kepada farmasi, karena dari sanalah industri ini hidup dan memberikan keuntungan finansial secara tidak langsung. 

Karena selalu ada pernyataan, biaya menjadi dokter itu mahal, sekolah sudah mahal² jika sehat itu hanya dengan pola hidup sehat seperti koq sia². Makanya selalu ada penyangkalan jika ada yang berusaha untuk anti farma dan tidak percaya dokter, karena dokter itu sudah sekolah mahal jadi mereka pasti pintar. Padahal yang jadi inti bukan itu, karena dokter yang mengobati dengan hati itu sedikit dan langka, karena kebanyakan mereka berorientasi dengan uang, untuk membayar biaya sekolahnya. Dokter yang bekerja sosial = kemiskinan. Ini pendapat pribadi saya yang menyadari dokter yang bekerja dengan hati sangat sedikit, dokter yang menyembuhkan dengan kombinasi obat dan psikologis sangatlah sedikit. Yang ada adalah dokter = obat farma. 

Tapi memang benar juga banyak penyakit² yang tidak bisa tidak dimatikan tanpa sesuatu yang 'keras', dan itu hanya bisa diatasi dengan obat farma. Namun terkadang dokter sangat jarang yang mensosialisasikan gaya hidup yang benar, mereka lebih memilih obat farma untuk solusinya, yang cepat dan tepat. 

Itu di atas adalah pikiran negatif saya terhadap penanganan obat TB, karena tidak banyak informasi yang clear untuk menjelaskan kenapa² nya, masyarakat dibiarkan menerka-nerka dan mengira-ngira sendiri jawabannya, yang pada akhirnya jadi melebar kemana-mana, membuat tidak percaya pada tenaga medis dan fasilitasnya. 


Oke saya lanjutkan ke jurnal pengobatan. Jadi hari ini ketika pengambilan obat yang mingguan, diinformasikan kalau tanggal 26-01-2026 ini akan ada pengambilan sampel dahak #1 setelah proses pengobatan. Diharapkan sampel masuk tanggal tersebut +- 7 hari kerja, hasilnya bisa rilis di awal Februari 2026 untuk mengevaluasi kinerja obat, sejauh mana bakteri TB berkembang, mati atau masih ada. 

Jika nanti hasilnya ke arah negatif pola pengobatan bisa saja berubah, berganti ke dosis yang lebih kecil atau bagaimana tergantung hasil sampel dahak ini. 

Sampel dahak ini nanti diberikan ke Puskesmas, tidak ke RS Prima Husada dimana kemarin start awal fonis itu dimulai dari RS itu, tapi nampaknya semua akan dilanjutkan di Puskesmas Pandaan sebagai instalasi pengobatan TB yang pasien terdaftar. 

Apakah pengobatan intensnya bisa selesai 3 bulan ataukah tetap harus 6 bulan, ini belum tahu. Kita lihat saja nanti bagaimana.

Jadi untuk sementara saya update begini dulu. Nanti update berikutnya akan saya sampaikan menyusul ketika ada informasi baru. -cpr

#onedayonepost
#kesehatan
#informasi
#postingpribadi
#eliminasitb

Posting Komentar

0 Komentar