Meski saya sering menulis di blog ternyata tidak membuat saya mudah untuk mengungkapkan apa yang saya pikirkan, terkadang saya belibet sendiri menyampaikan apa yang ingin saya sampaikan, dibahasa lisan terutama, dan ternyata dibahasa tulis juga begitu.
Ini dibuktikan ketika saya menyusun prosedur tetap atau SOP untuk keperluan proses kerja di lingkungan pekerjaan, ada saja bahasa proses yang berlibet, maksudnya ke sana terkadang itu saya harus menjelaskan ini itunya dahulu.
Karena saya merasa orang lain gak paham dengan apa yang saya pikirkan. Tapi justru ternyata dengan saya menjelaskan ini itunya dahulu, membuat orang lain juga gak paham.
Giliran saya to the point, eh malah nanya kenapa begitu, gimana gak capek dan jengkel, terus maunya apa sih.
Saya sebenarnya orang yang tidak mau ribet dan ruwet, tapi ketika apa yang saya maksud tidak dimengerti orang lain itu seperti jadi ada sesuatu yang mengganjal. Tapi satu poin utama, segala sesuatu pasti ada sebab musababnya (sebab akibat). Saya mencoba memahami alasan seseorang tetapi orang lain sebaliknya tidak mau memahami alasan saya, seringnya judgement.
Saya selalu berpikir bahwa apa pun keputusan yang dipilih seseorang pasti ada alasannya, sehingga saya jarang mempermasalahkan itu, untuk case normal ya. Bukan case kejahatan atau kriminal yang disengaja untuk keuntungan pribadi, kalau itu sih saya tidak bisa menolerir. Contoh kaya pelaku ranmor, perampokan, jambret, begal dll., yang begitu saya tidak masukan ke dalam suatu yang normal.
Kemudian saya juga sering kesulitan ketika membuat penjelasan route cause, gap, dsb., karena saya langsung melihat ke koreksinya. Tapi yang sering dipermasalahkan adalah route cause nya apa? Ini yang saya sering bingung sendiri. Satu komentar yang sering saya ucapkan, "ya sudah sih tinggal diperbaiki, koq gitu aja repot".
Balasan yang sering saya dengar: "lalu bagaimana supaya gak terulang lagi?"
Sebenarnya benar sih, supaya gak terulang lagi itu gimana? Akar masalahnya apa sih? Tapi bagi saya ya, mau akarnya diberesin nih, paling nanti juga ada lagi yang lain.
Contohnya soal korupsi deh, akarnya diselesaikan, oh mungkin karena kurang gajinya, lha gajinya sudah digedein masih saja tetap koq para pejabat korupsi. Kalau soal itu kan masalahnya dimental masing² orangnya saja bagaimana. Mau diapain juga kalau mentalnya gak bisa menahan harta tahta dan wanita, pasti akan terulang lagi. Preventifnya ya mentok di bagaimana sosialisasi pendekatan agama bisa optimal, bahkan itu saja tidak bisa membatasi orang untuk tidak korupsi. Paling mentok, pada akhirnya cara paling instan adalah dengan hukum yang berat bagi pelaku (hukum mati misalnya), dengan cara itu orang akan takut berbuat korupsi.
Cuma saya bingung, lha kalau hal sepele aja dibuat seperti itu semua? Jadi tinggal dipukul rata saja, setiap kesalahan preventifnya adalah dengan hukuman mati, selesai deh masalah, ya gak sih?
Soal itu gak usah dilanjutin, itu cuma contoh saja sih. Inti yang ingin saya sampaikan bukan itu. Intinya saya sering bermasalah untuk menyelesaikan soal sebab akibat, hal ini terjadi karena ini, ini terjadi karena itu, itu yang saya bingungkan. Karena ketika saya jelaskan apa adanya, sering yang dokayakan: "jangan jujur-jujur jelasinnya."
Lha padahal kan yang terjadi memang itu, tapi kadang demi sebuah bahasa supaya nampak bagus, selalu dipoles, dengan kalimat 'jangan jujur-jujur'.
Memang mayoritas orang tidak siap menerima kenyataan sih, ya mungkin saya juga termasuk yang begitu. Pada akhirnya saya juga kadang akhirnya mengikuti keadaan itu. Pada akhirnya nantinya yang saya lakukan itu salah juga.
Lalu apa untuk menyelesaikan masalah ini apakah saya harus memperdalam KBBI?
Nampaknya saya harus membedah lagi soal analisa CAPA, karena memang itulah sebenarnya inti masalahnya. Memahami KBBI itu hanya sarana untuk memilih diksi yang tepat.
Karena saya akui, sering saya menggunakan diksi² yang aneh dan nyeleneh, saya memang sudah sejak lama memilih demikian, baru sekarang saja jadi masalah ketika saya bertemu dengan orang-orang yang benar, sehingga diksi² yang aneh dan nyeleneh jadi bahan kritisi.
Karena terbiasa menggunakan diksi nyeleneh itulah akhirnya KBBI yang seharusnya jadi kabur dan pada akhirnya saya kesulitan memilih kata yang benar. Mungkin itu kali masalah yang saya hadapi #fiuh, ya begitulah.
Ya mungkin ada saran buat yang pernah mampir ke blog dan baca tulisan² saya ini, terkadang kita butuh pov lain untuk membaca apa yang kita lakukan. Segitu saja deh coret-coret di akhir pekan ini. -cpr
#onedayonepost
#coratcoret
#salahdiksi
#kbbi
#postingpribadi
#disleksia

0 Komentar
Tinggalkan jejak, jika anda mampir ;p Terima kasih atas kunjungannya - cocoper6