Bekerja pada bagian yang melayani banyak orang itu perlu ekstra sabar. Ya jelas, harus sabar, karena umumnya orang yang dilayani itu biasanya banyak maunya dan banyak komplennya.
Hampir lima tahun saya bekerja sebagai bagian pembelian kerap menemukan manusia² rese, yang bisanya komplen dan tidak tahu diri.
Bagian pembelian yang saya alami sebenarnya hanya pelaksana atas perintah, ketika approval memang bukan pada tanggung jawab saya. Jadi ketika ada sesuatu yang mau dibeli, ada pilihan², lalu yang dipilih adalah sesuatu dengan harga 'relatif lebih murah', tentunya ketika mau komplain, komplainlah pada orang yang tepat.
Prinsip yang ada di pasar, "ada harga ada rupa". So jadinya sebagai pembeli harusnya tahu dan sadar itu. Kalau saya jelas sadar banget, dan itu kenapa saya bukan tipe orang komplain.
Kecuali ya, ada hal² kesepakatan atau hal² wajar yang perlu dikomplainkan. Tapi jika hanya berdasarkan subjektifitas pribadi, wah lucu si.
Ilustrasi, gambar diambil dari Google
Jadi saya ini ada beli bata ringan tuh, sebenarnya ada dua brand yang menawarkan, harga dan additional serve nya berbeda. Brand A lebih murah dan dapat serve lebih, namun menurut subjektif barangnya kurang kuat. Padahal sih secara umum namanya bata ringan ya hampir sama, mau dari brand apapun dengan standar bata ringan yang sama. Brand B katanya lebih kuat menurut pandangan subjektif, harga lebih mahal dan tidak dapat serve lebih.
Yang dimaksud serve lebih adalah soal pengiriman via tronton, penggunaan palet dll.
Brand A mau menyediakan itu karena include dalam penjualan. Sedangkan brand B tidak, harus ada additional price. Ya jelas kita ini pilih A, toh lebih murah untuk kualitas barang yang sama.
Brand A datang, eh si user ini ada saja komplen, minta paletnya yang bagus dll. Di sini heran, ini kita beli bata ringan apa beli paket sih? Alasannya kalau paletnya rapuh dan jelek itu gak bisa diangkat.
Woi, itu palet tau fungsinya untuk apa? Itu hanya sekedar buat naruh bata ringan di atasnya supaya tidak langsung ditaruh ditanah dan memudahkan proses angkat² karena ada alat bantu forklift. Terus kalau urusan pembeli mau taruh di luar angkasa, taruh di atas itu sudah ranah pembeli. Ini usernya minta paletnya yang bagus. Mikir dong, palet yang bagus itu biaya, siapa yang mau bayar. Harga naik sedikit saja pemberi approval beli pikir².
Nah contoh diatas itu salah¹ saja sih bagian dari orang³ rese yang gak tahu diri. Dia itu gak paham soal pembeli dan penjual, dia itu seperti orang pedalaman yang tidak tahu apa², jadi asal saja.
Masa iya kesulitan pembeli di lapangan dibebankan ke penjual. Lha itu urusan lu, ngapain penjual ikut dibebankan masalah anda.
Saya sebenarnya berada di posisi pembeli tapi lucu ketika dihadapkan seperti itu, jujur saja malu saya sebagai pembeli.
Di tempat saya bekerja banyak saya jumpai manusia² rese. Manusia² gak tahu diri. Ribut hal² sepele, padahal hal sepele itu habiskan effort lebih, buang waktu dan habiskan waktu. Jika tidak ada pekerjaan si okelah buat nambah² job, lha ini pekerjaan banyak eh ribut hal sepele.
Lalu kemudian, mereka itu seolah-olah gak pernah membeli sesuatu untuk diri mereka sendiri. Intinya itu gak sadar diri. Seharusnya mereka berpikir ketika dia ada diposisi sebagai pembeli. Tapi rasanya tidak begitu, karena pada dasarnya mereka ya gak tahu diri.
Saya tipe orang yang simpel, ketika membeli ya saya harus tahu resiko dan apa yang saya mau. Tapi tidak dengan user² yang minta sesuatu, mereka justru 'buta' gak tahu apa yang mau dibeli, yang mereka bisa lakukan hanya 'minta'. Jika tidak sesuai padahal itu barangnya diminta, cara termudah adalah komplain. Lucu sih, tapi ya itu yang terjadi.
Kalau memang membutuhkan seharusnya mereka kritis di awal, kalau gak begini nanti begitu, misal gak begini nanti begitu, tapi kalau kepepet gak begini, nanti akan begitu, segala macam resiko harusnya sudah dipikirkan sejak awal sebelum menginginkan sesuatu. Tapi tentunya itu gak dilakukan. Yang dilakukan adalah komplain dan komplain.
Ibaratnya, "murah koq minta selamat". Toh nyatanya pasar berkata lain, "mahal toh belum tentu juga selamat". Lihat kasus ekspedisi Titanic yang menewarkan semua penumpang dan kru, apa itu biaya yang murah? Tidak, itu biaya rekreasi yang sangat mahal, nyatanya, apakah mereka selamat? Tentu tidak!
Mau mahal atau murah yang penting tahu segala macam resikonya. Mahal dan murah itu soal bagaimana biaya² terakumulasi hingga barang tersebut ada dan dijual. Anda harus paham soal komponen pendukung harga itu apa saja. Selain itu spesifikasi dan segala sesuatunya dipahami dan dicari tahu dulu.
Seolah-olah, mereka itu tidak pernah bertransaksi membeli barang. Hanya bedanya, ini dilakukan oleh perantara (baca: purchasing). Ini hanya soal perantara saja, dan apa yang diminta ya seharusnya sudah diketahui detail oleh si yang mau beli. Bukannya 'buta'.
Bagian pembelian itu hanya calo sebenarnya, yang mempertemukan pengguna dan penjual, dan sudah seharusnya pengguna tahu dan paham apa yang mau dia cari, jika tak memahami betul setidaknya tahu lah profil sesuatu itu, bukan sekali lagi 'buta', dan hanya minta.
Tahu kah, itu sama dengan pengemis yang cuma bisa minta, giliran gak dikasi atau dikasi gak sesuai ekspektasi lalu komplain.
"Hah, rese kali kau ini, bah!"
Saya pernah juga bahas sesuatu dengan topik yang hampir serupa, itu juga terpancing karena bertemu dengan orang² yang rese.
Baca juga: Pembeli dan Penjual Rese
Baca juga: Gimana Cara Menangani Konsumen Rese?
Oh ya, saya mau cerita lagi, ketika berada di sekitar manusia rese.
Jadi suatu pagi, di kantor nih. Si rese ini masuk ke koridor menuju ruangannya, pas berjalan masuk si rese ini entah mencium sesuatu, katanya sih bau bangkai. Namun bau ini tidak dicium oleh orang lain, orang lain di sekitar tidak menganggap hal aneh, biasa saja.
Setiap orang yang lewat ditanya, mencium bau² aneh? Ternyata tidak, biasa saja. Bahkan saya juga saking penasaran ikut mengendus, hmm biasa saja, ada bau² pun ya kayanya bukan hal besar yang perlu diributkan deh sebenarnya.
Akhirnya geger, semua orang dipanggil. Petugas kebersihan yang disuruh mencari bau² aneh ini dipaksa mencari. Tapi ketika ditanya, apakah mencium bau aneh itu, si petugas kebersihan bilang gak cium. Lalu, bagaimana cara mencari jika si yang mau membersihkan tidak tahu baunya seperti apa yang dipermasalahkan. Ini kan aneh!
Entahlah, aksi rese pagi itu akhirnya jadi buah bibir saja, jadi candaan² yang sebenarnya agak meledek sih. Soalnya itu bukan hal yang gimana, dan hanya dia yang 'bermasalah' dengan hidungnya.
Hmm, mungkin ini waktunya untuk melepas masker?
Biarlah kalian pembaca yang menjawab.
Inilah yang saya anggap sebagai contoh orang² rese. Rese dalam hal lain ya, hal kecil yang gak terlalu produktif diributkan. Kecuali ya, bau itu dicium semua orang, minimal mayoritas orang di sana mencium dan terganggu, lha ini hanya dia yang terganggu.
Dulu masih di area yang sama, waktu itu bau kopi. Itu juga sempet ramai. Tapi kalau kasus kopi itu memang benar ada bau kopi tercium, dan semua juga mencium, hanya saja karena memang ada aturan gak boleh makan minum di lokasi itu, lebih baik semua dia meski tahu siapa dan dari mana sumber bau itu berasal.
Itulah kira² ya contoh² manusia² rese yang bisa dengan mudah dijumpai di lingkungan saya.
Saya sendiri tipe yang simpel dan tidak mau ambil ribut, kalau ada masalah ya sudah gimana bisa diselesaikan dengan diam dan tenang.
Kan gak semua masalah bisa diselesaikan dengan diam?
Iya memang betul, tapi daripada ribut dan berisik seperti yang kalian lakukan, itu sangat mengganggu. Lebih baik diam saja ketika gak bisa berbuat apa² menyelesaikan, daripada banyak cakap tapi memperkeruh suasana.
Orang rese itu cenderung banyak cakap. Orang simpel lebih memilih diam dan tidak memilih jalur konfrontasi. Orang rese itu senang lihat orang susah, sedangkan orang simpel, mau susah atau senang, ya sudah dijalani saja, malah kalau bisa dibuat mudah kenapa harus dipersulit. Tapi orang rese mengambil jalan ninja sebaliknya, "kalau bisa dipersulit ngapain dipermudah".
Jadi memang orang rese ini gak bisa bersatu dengan orang simpel. Tapi di dunia ini butuh keduanya ada dalam satu lingkungan, supaya hidup jadi lebih hidup.
Walaupun kalau disuruh milih, lebih baik gak bertemu dengan orang rese, karena habiskan energi untuk hal² yang gak penting bagi orang simpel.
Orang simpel bisa juga rese ternyata, tapi itu buat hiburan dirinya, karena memang pada dasarnya hidup perlu seimbang, dimana rese dan simpel itu perlu ada. Kembali lagi, lebih baik rese dan simpel diciptakan sendiri daripada ketemu orang yang rese.
Mungkin juga sesama orang rese juga males kali berada dicircle orang² serupa. Karena memang orang rese itu menyebalkan jika ada dalam suatu circle, lebih dicari orang simpel, karena orang simpel sering jadi bahan hiburan orang² rese. Tapi orang rese biasanya pasti gak mau diresein sama orang rese juga.
Nah kebalik ya, daritadi bahas orang rese. Sebenarnya pemahaman orang rese itu seperti apa si?
Rese disematkan kepada orang yang menyebalkan. Bagi kamu yang sering membuat teman jadi kesal, maka kamu adalah orang yang rese
Saya juga temukan dibeberapa blog yang sempet bahas orang rese, baca juga di sini.
Intinya begini, beda orang rese dan simpel, yang jelas orang simpel gak akan melakukan apa yang dilakukan orang rese. Walaupun gak menutup kemungkinan si simpel bisa saja rese, tapi sekedar buat ngisi warna kehidupannya saja. Tapi orang rese itu seluruh kehidupannya ya diisi dengan aktivitas yang menyebalkan bagi orang lain. Disitu sih kesimpulan akhirnya.-cpr-
.jpeg)
0 Komentar
Tinggalkan jejak, jika anda mampir ;p Terima kasih atas kunjungannya - cocoper6