"Terkadang ego mu itu mengorbankan banyak orang, karena hanya ingin mengikuti kemauan mu."
"Terkadang kita tidak bisa selalu baik didepan semua orang dan jangan memaksakan membuat orang menganggap kita baik, biarlah mengalir begitu saja. Yang baik akan tetap baik tanpa perlu dibuat-buat."
Entah ya, itu sih yang saya pikirkan ketika menonton film Spiderman: No Way Home (2021). Kebetulan saya penonton yang telat nonton, tidak nonton di bioskop tetapi nonton melalui canal penyedia film aplikasi Catchplay+.
![]() |
| Ilustrasi, Spidey Sr. dan Spidey Jr. Gambar diambil dari Google. |
Ya dengan bayar 25K untuk 48 jam kesempatan nonton film ini setelah film ini sudah diputar, jadi kau mau nonton berkali-kali kesempatan mu ya 48 jam itu, untuk harga 25K. Jauh lebih murah jika dibandingkan di bioskop, hanya selisihnya adalah harga yang harus dibayar untuk experience nonton di bioskop.
Saya tidak mau membahas jalan cerita atau alur atau apapun soal film ini, saya justru ingin meluapkan kekesalan saya pada karakter Peter Parker di Spiderman edisi kali ini. Yups saya sangat amat dibuat kesal dengan sifat anak muda yang 'ceroboh', meskipun inilah memang jalan cerita yang harus dilalui oleh Peter di universe ini.
Masing² Peter punya jalan cerita dan takdirnya masing² sesuai universe nya, seperti Peter (Tobey M. ), dia harus kehilangan Paman Ben. Kemudian Peter (Andrew G.) yang harus kehilangan Gwen kekasihnya. Dan Peter (Tom Holland) harus kehilangan Bibi May. Ketiga Peter itu harus kehilangan orang terkasih nya karena kesalahannya sendiri.
Peter (Tom Holland) menyebabkan petakanya sendiri dengan keegoisannya. Dr. Strange sebenarnya hanya membantu apa yang awal diinginkan Peter, agar semua orang lupa bahwa dirinya Spiderman, gara² dibocorkan oleh Mysterio. Namun karena terlalu banyak keinginan yang dia inginkan, bahwa harus begini, begitu, akhirnya membuat rapalan mantra Dr. Strange jadi kacau, akhirnya membuat terjadi kekacauan multiverse, karena mantra yang dilakukan Dr. Strange merupakan mantra yang tidak bisa digunakan sembarangan. Itu hal pertama yang membuat semuanya hancur.
Kedua, setelah kekacauan itu terjadi, multiverse mulai berantakan, villain dari multiverse lain berdatangan. Solusinya sudah jelas, Dr. Strange memberikan solusi yang simpel, menangkap semua villain universe lain lalu mengembalikan mereka ke timeline masing² sesuai takdir mereka.
Ternyata si Peter ini kembali melemparkan keegoisannya. Ingin menyelamatkan mereka dari takdirnya. Di universe villain itu punya takdirnya masing², dimana sebagian dari mereka mati. Hal ini tidak diinginkan oleh Peter. Akhirnya solusi segel Dr. Strange malah dikacaukan oleh Peter. Niatnya menormalkan mereka (para villain) itu pada akhirnya membuat Bibi May jadi korban. Akhirnya takdir seorang Spiderman harus kehilangan orang tersayang tergenapi.
Sedikit intermesso, kekesalan saya ketika menonton film ini terbayarkan dengan dua karakter Spiderman dari universe lain, yaitu Spiderman generasi pertama saya anggap begitu, yakni Peter (Tobey M.) dan lalu yang generasi kedua yaitu Peter (Andrew G.), keduanya bisa menunjukan bahwa Spiderman itu bisa lebih dewasa dalam hal berpikir, meskipun di universe mereka, mereka juga melakukan kesalahan, namun tidak perlu mengorbankan banyak orang, mereka bisa lebih dewasa menyikapi kekuatan mereka. Pemahaman soal, 'dibalik kekuatan super yang mereka miliki, terdapat tanggung jawab besar yang harus mereka emban." Dan itu tergambar dalam perilaku mereka yang dewasa, berbeda dengan Peter (Tom Holland), dimana keegoisannya justru membahayakan banyak orang di sekitarnya.
Ketiga yang saya buat menyebalkan, antiklimaksnya ujungnya mereka yang kenal siapa Spiderman harus melupakan kebenaran bahwa Peter adalah Spiderman. Kalau dari awal ujungnya seperti ini kenapa harus membuat kekacauan sampai membuat Bibi May meninggal. Sedari awal saja dilakukan itu, toh teman² nya, pacarnya MJ dan Ned pun lupa dan tidak mengenali lagi seorang Peter dan Spidermannya.
Untuk membuat keputusan yang sama pada akhirnya koq harus mengorbankan banyak orang, dan akhirnya Peter harus kehilangan Bibi May.
Saya malah tidak prihatin dengan apa yang dialami Peter, justru saya sukurin, rasain. Kalau pada akhirnya begitu, kenapa dibuat repot, akhirnya Bibi mu meninggal bukan. Itulah suatu tindakan paling bodoh menurut saya.
Meskipun selalu ada kata² mutiara, 'kegagalan adalah guru yang berharga', tapi saya rasa itu tidaklah cocok, karena kegagalan itu bisa dicegah kalau kamu dewasa dalam bertindak, berpikirlah sebelum bertindak.
Ya tapi bisa dimaklumi karakter Peter (Tom Holland) diceritakan masih muda saat menjadi superhero, inilah yang membuat ketidakdewasaan seorang Peter Parker, sehingga banyak keputusan² yang dia buat bukan menyelamatkan orang lain malah justru membuat mereka meninggal dan membahayakan orang yang dia kasihi.
Ya itulah kira² kekesalan saya ketika menonton film ini. Tapi itu bisa buat pelajaran kita, terkadang bisa saja kita mengalami ada di posisi itu (seperti yang Peter alami), jangan berbuat seperti yang Peter lakukan. Demi egonya demi orang² terkasih malah justru mencelakai nya.
Jangan sampai kita melakukan kesalahan seperti yang dilakukan oleh Peter (Tom Holland) perlu menunggu korban dulu baru sadar akan kedewasaan, sungguh saat ironi kan.
Kita bisa melihat kedewasaan dari ketiga Spidey yang kita lihat dari film No Way Home ini, kedua Spidey senior itu lebih dewasa dalam menyikapi masalahnya, dan Spidey jr. ini lebih terkesan trouble maker.
Beruntung setelah sepeninggal Tony Stark ada Dr. Strange yang masih mau membimbingnya, dan kekacauan pada No Way Home itu akhirnya bisa diselesaikan oleh Dr. Strange, walaupun ya ada peran dari ketiga Spidey dan keputusan dewasa seorang Peter (Tom Holland) pada akhirnya, ya memang tidak ada kata terlambat, namun jika melihat sudah mengorbankan orang yang disayang sungguh disayangkan sih.
Bagaimana menurut kalian?
Ini sih yang saya rasakan ketika menonton No Way Home, sangat amat dibuat kesal sejak awal film dimulai.
Namun ada satu hal yang menarik dari yang dilakukan Peter (Tom Holland) walaupun ini tidak sesuai dengan cara pikir saya. Apa itu?
Dia masih berpikir dapat menyelesaikan 'masalah' itu semua, masalah yang tak mampu diselesaikan oleh Spidey sr., yaitu mengembalikan Sinister Six kembali kepada sifat aslinya 'manusia baik'.
Untungnya pengorbanan kematian Bibi May jadi tidak sia² ketika anggota Sinister Six berhasil kembali ke mode normal, atau setidaknya membuang sedikit sifat jahat mereka.
Kalau saya mungkin tidak akan memilih cara itu dengan mengorbankan yang lain, jika memang itu sudah takdirnya para super villain itu. Tetapi itulah uniknya dari multiverse, ketika di universe lain suatu hal tak mampu diselesaikan atau diabaikan, di universe yang lain yang terjadi adalah sebaliknya.
Tinggal berada dimanakah kita, universe yang ini atau yang itu.
Hahaha 😅, jadi berimajinasi saja, apakah mungkin di dunia nyata yang kita hidup saat ini teori multiverse itu ada, atau hanya imajinasi ilmiah dari sineas² dalam mengembangkan cerita, supaya terlihat realistis.
Sudah gitu saja komentar saya habis nonton No Way Home ini. Meski terlambat nonton gak apa², saya cukup terhibur bisa nonton di Catchplay+ ini, praktis tinggal duduk di rumah, pakai headset terbaik mu, dan nikmati sensasi lain menonton film. -cpr-

1 Komentar
Sifat egonya Peter sebagai anak muda sudah terlihat 'menyebalkan' ketika skuel kedua di Far from Home, di situ ego nya sebagai anak muda ya alamiah sekali dan itu yang buat menyebalkan. Dia saat itu sudah jadi superhero sehingga tanggung jawab dia besar tapi dia masih suka melalaikan itu.
BalasHapusKalau ada yang bilang jadi superhero sebelum matang, ya bisa dilihat dari karakter Peter Parker nya Tom Holland ini, itu sangat realita sekali.
Tinggalkan jejak, jika anda mampir ;p Terima kasih atas kunjungannya - cocoper6