Berkaca dari Kasus Korupsi Wamenaker "Garang"

Media massa nasional saat ini sedang diramaikan kasus korupsi yang disangkakan pada seorang pejabat di Kementrian Ketenagakerjaan, seorang wakil menteri yang mengurusi tenaga kerja. 

Sepak terjang ybs. ini dipuji ketika dia berani melawan oknum² pengusaha nakal di Surabaya, waktu itu dia dengan berani mengobrak-abrik isi dari pengusaha nakal itu hingga akhirnya si pengusaha ini kena kasus di kepolisian, entah kasus ketenagakerjaannya atau kasus lain yang mengiringi, tapi setidaknya itu bisa jadi 'tamparan' bagi dunia usaha yang masih main praktik nakal di dunia kerja. 

Ilustrasi, sang wamen. Gambar diambil dari Google

Ada angin segar bahwa ybs. ini bisa bikin perusahan² jadi sedikit takutlah buat nakal². Mungkin juga saat itu banyak pengusaha² nakal yang kena dampak, atau yang belum kena dampak nyumpahin orang ini (baca: wamen). 

Style yang garang mengobrak-abrik ketidakadilan ini didukung banyak orang, ketika itu, ya hanya ketika itu. "Wah ini orang sangar, garang gak takut apapun sepertinya!" Ada harapan bahwa bangsa ini masih diisi oleh pemimpin yang mau kerja bener. 

Eh alah dalah, pada 20 Agustus 2025 kemarin, ada muncul headline berita, ybs. kena OTT oleh KPK #duarjegerblegur

Semua orang kaget plus gembira, gembira ini bagi pengusaha² yang pernah kena labrak ybs., bagi pengusaha² nakal yang ketika si ybs. berkuasa seperti mengobok-obok aturan ketenagakerjaan yang banyak diakali pengusaha. Pengusaha ini ketar-ketir pastinya, tapi dengan kenanya si ybs. oleh KPK, pasti mereka bergembira dan mengumpat, "Sukurin! Kena batunya, jadi orang sok suci, sok bener, padahal maling!"

Meski kata² ini muncul dari pemikiran saya, saya rasa ini juga gambaran yang sama dirata-rata orang² yang selama ini merasa tertekan karena sepak terjang ybs. 


Berkaca dari kasus ini, saya berpendapat begini: kita orang atau semua orang bisa saja terjebak pada hal demikian, ketika hati dan pikiran tidak kuasa menahan godaan iblis, soal uang dan kekuasaan. Perannya sebagai wamen tidak bisa diemban dengan amanah. Ketika ada tawaran² dunia, dia lupa dan wasalam. 

Bisa dihitung ybs. mulai berkuasa, bayangkan waktu yang cukup singkat membuatnya gelap mata dan memilih tidak amanah pada jabatannya. Kita pun bisa berada di situasi seperti itu, dan bahkan bisa saja kita lebih buruk dari itu. 

Karena melihat kasus itu, dapat dengan mudahnya seseorang memanfaatkan jabatan untuk hal² yang merugikan, membuat ekonomi biaya tinggi, gak profesional dan tentunya menciderai rasa keadilan. 

Ybs. ini terkena kasus pemerasan dalam pengurusan sertifikasi K3. Sebenarnya modus pengurusan ijin ini berlaku dan terjadi disemua bidang perijinan. Ini juga berhubungan dengan pihak ketiga sebagai jasa pengurusan ijinnya. 

Selain dari kasus ybs., saya juga berkaca pada yang saya alami sendiri. Dimana perusahaan saya juga tengah mengurus perijinan IMB, ijin SIPA, ijin lingkungan dll., perijinan ini melibatkan kementrian lain sebenarnya ditingkat pusat dan provinsi dan kabupaten. Nah dalam pengurusan ini kita menggandeng pihak ketiga penyedia jasa. 

Sudah bukan rahasia lagi, pengurusan ijin ini selalu ada biaya² yang diselipkan untuk melancarkan suatu proses perijinan. Bahkan saya ada dengar dari pihak jasanya sendiri, di tingkat kabupaten, sekelas PLT Bupati saja itu berani sebut nominal. Ini kan gila! Iya kalau saya ini orang KPK atau orang Intel KPK yang bisa didengar penyidik, bisa saja langsung di OTT kan ini pejabat. Sekelas PLT saja aji mumpung lho pas jadi pejabat dengan kewenangan. 

Kita kembali ke kasus si wamen ini, dari sini kita semua berkaca, bahwa kita semua bisa ada diposisi itu dan bisa saja khilaf dengan situasi tersebut

Misalkan nih kasus ini tidak terblow-up KPK dan anteng² saja, yang terjadi adalah ybs. tidak akan lagi bersikap garang² atau sangar seperti sebelumnya, nanti dia ini akan lebih negotiable, apa² semua bisa dibicarakan. Karena apa, perbuatan nakalnya sebagai pejabat nakal ini akan terendus juga oleh pengusaha², dan nantinya pengusaha² ini akan mengiming-imingi sesuatu supaya tidak garang ketika berhadapan dengan mereka, apalagi ketika ada kasus, paling mentok, semua bisa dibicarakan dan dinegosiasikan, atau paling² semua didramakan dan jadi bahan pencitraan semata. 

Karena hal begini, ini bukan rahasia lagi, jika seorang pejabat itu nakalan, itu pasti kecium sama orang lain, dan suara² nakal ini akan terdengar dari kuping ke kuping, hingga akhirnya ke masyarakat menjadi isu² yang nanti membuat masyarakat bingung. 

Media kini mulai banyak mengulik latar belakang ybs. (wamen). Dia baru menjadi pejabat ya baru² ini, sebelumnya dia hanya ketua dari suatu kelompok yang mendukung pemerintahan sebelumnya, tepatnya Ketua ProJo (pro Jokowi). Jelas kasus korupsi ini jadi seolah-olah mendeskreditkan sosok Jokowi, padahal ybs. gak tahu apa². Mungkin dulu si ybs. (wamen) ini jujur kerja benar, idealisnya positif. Tapi akibat terlalu nikmat dalam lingkungan yang mengiming-iming uang dan kekuasaan, akhirnya terjebaklah juga. 

Entah ybs. mulai berlaku tidak benar sejak kapan. Yang pasti ini contoh yang buruk, karena dia adalah seorang Kristen dan ini jelas tendesi buruk. Kini semua umat beragama punya potensi yang sama untuk berlaku tidak benar. 

Ini juga sekaligus jadi gambaran di Kementrian lain juga sama seperti ini, apalagi yang berurusan dengan perijinan, ini hanya belum terungkap atau ada yang lapor saja. Karena masalahnya kalau lapor dampaknya luas, jasa perijinan juga mendapatkan 'sesuatu' dari praktik ini. Terus jika dibumihanguskan semua pasti ada dampaknya. Kalau begini ceritanya, ini tinggal tunggu apes saja, tapi tetap pola korupsi ini akan tetap berjalan di Kementrian² di republik ini. 

Kita boleh saja menjudge, tapi ingat ada kalanya karma itu ada dan siapkah anda ketika saatnya tiba saat anda lengah, tawaran iblis akan lebih nikmat saat itu ketimbang saat ini anda dengan lantang dan berkata benar, bahwa itu salah. Tapi saat iblis nanti sudah menawarkan sesuatu yang membuat kita lengah, pada akhirnya kita juga termasuk bagian dari mereka. 

Yakinkan pada mental anda mampu menahan godan iblis, tahta, harta dan wanita? Buat bahan instropeksi diri sih. Jangan untuk saat ini, tapi saat nanti ketika iblis ada diotak kalian memberikan pilihan² dunia. Karena kalau saat ini situasi itu dihadirkan didepan kalian, jawabannya tentu tidak, idealis dan yakin, wajar sedang gak lengah. Tapi nanti saat lengah, ceritanya akan berbeda. 

Satu lagi refleksi yang bisa diambil dari kasus ini. Tidak ada pejabat yang bisa kaya raya seperti sultan dengan aset di mana-mana, kalau ada itu pasti karena korupsi atau memanfaatkan kuasa dan kewenangan. Karena pada dasarnya semua pegawai yang bekerja dengan gaji yang tetap dipastikan ya hanya segitu-gitu saja, kecuali ada penghasilan lain diluar itu, itulah yang membuat seseorang kaya raya. 

Jadi jangan percaya jika ada pejabat bisa kaya raya, suujon yang pertama adalah dia kaya karena korupsi atau memanfaatkan kuasa dan wewenang. Karena pejabat yang normal ya dia cukup untuk hidup dan menjalani hidup dengan sederhana dan cukup, bukan gelimang harta dan aset. Hati-hatilah dan selalu mawas diri, karena iblis ada di sekitar kita menawarkan nikmat² dunia. -cpr

#onedayonepost
#opini
#postingpribadi
#korupsiwamen
#kemnakerkorupsi


Posting Komentar

0 Komentar