Cerita Rabu Abu 2022, Masih Pandemi

Tiba juga masa prapaskah 2022, bagaimana kah cerita Rabu Abu tahun ini?

Kebetulan saya pernah catat cerita Rabu Abu tahun yang lalu, kala itu ya masih masa pandemi juga. Jadi ya masih masa protokol, dan kebetulan saat ini sedang gelombang ke-3 covid19 dengan omicron sebagai 'koordinator' nya.

Ilustrasi, gambar diambil dari Google.

Rabu Abu tahun ini saya misa masih di tempat yang sama St. Theresia, Pandaan. Tahun ini ada 3x misa, yakni jam 05:30; 07:00 dan 18:00.

Saya ikut misa yang jam 07:00, dari rencana awal ikut yang pagi, tapi benar² godaan setan luar biasa, badan berat sekali, bahkan mau sarapan saja tidak bisa. Misa jam 07:00 itu selesai jam 08:10.

Ini suasana gereja, ketika umat masih belum pada datang, yang ikut misa kedua ini cukup banyak koq, khas suasana misa pagi. Suasana masa prapaskah sudab terasa sejak memasuki gereja, dengan hiasan di altar sudah menunjukan ini awal masa prapaskah. Belum lagi dengan musik dan lagunya menggambarkan jelas. Orang tak melihat bisa merasakannya koq, coba pejamkan mata dan rasakan, ini adalah awal masa prapaskah.

Tapi gak apalah, akhirnya jadi gak makan, karena niatnya mau puasa, sebagai ujud perdamaian dunia, seperti yang dihimbau Bapa Paus Fransiskus yang prihatin pada situasi dunia yang mencekam karena perang Rusia vs Ukraina, dalam upaya Rusia menginvasi Ukraina.

Oh ya, untuk misa Rabu Abu ini prosesi pemberian abu diberikan dengan cara ditabur di atas kepala, tidak diberikan didahi, tetapi ditabur.

Kemudian, bagi keluarga yang tidak bisa mengikuti misa di gereja, disediakan abu yang sudah diplastik klip, siap dibawa. Seperti tahun lalu, saya bawakan abu untuk ibuk dan dia. Kali ini saya bawa abu untuk ibuk dan dia, dan juga untuk teman² di kantor. Jadi total 2 plastik klip.

Tahun ini agak berbeda dengan tahun lalu, dimana banyak umat yang ambil abu untuk anggota keluarga, tahun ini cuma sedikit, dan abu² nya sudah disiapkan oleh koster. Romonya justru tidak tahu, jadi harus tunggu koster yang memberikan.

Oh ya, tahun ini misa Rabu Abu jam ke-2 dipimpin oleh Romo Thomas.

Yang abu untuk ibuk dan dia saya berikan di office, saya masukan ke dalam amplop putih, dan saya berikan ke officenya. Saya langsung taruh dimeja ketika dia ada di sana, tanpa mengucapkan apapun, hanya bahasa gestur.


Saya sengaja mencatatkan catatan ini untuk histori, untuk kenangan dimasa yang akan datang. Bahwa saya pernah melewati masa ini, karena dimasa depan ketika disaat momen yang sama, saya pasti akan melihat kebelakang untuk sekedar mengenang.

Sampai jumpa ditahun depan, semoga masih diberi kesempatan untuk mengulangnya lagi, entah dengan cerita berbeda atau ya masih sama² saja. Ditunggu saja cerita tahun depan. Selamat memulai retret dalam masa prapaskah tahun ini, semoga bisa menjadi berkat untuk orang lain dan diri sendiri. -cpr-

Posting Komentar

0 Komentar