Hati-hati dengan Penipuan Mengatasnamakan Bank

Catatan ini dibuat dalam rangka sharing pengalaman, agar kita berhati-hati terhadap modus penipuan mengatasnamakan perbankan untuk meretas akun perbankan kita. Untungnya, karena dasar pengetahuan yang baik, modus penipuan seperti ini bisa dihindari, dan agar yang lain juga punya dasar pengetahuan yang cukup, informasi ini coba dibagikan.

Saat ini beredar cerita-cerita mengenai penipuan kartu kredit/ perbankan daring di sosial media, yang mungkin tidak semua dari cerita yang beredar itu benar.

Tetapi saya akan berbagi pengalaman  yang saya alami sendiri mengenai usaha penipuan melalui kartu kredit/ perbankan daring.

Karena Saya termasuk orang yang aktif bertransaksi dengan kartu kredit/ perbankan daring, saya sering mendapatkan telepon dari orang yang mengaku dari bank, dari mulai menawarkan kartu kredit, kredit tanpa anggunan, asuransi, dan lain-lain.

Dari telepon yang sering saya terima, Ada dua panggilan yang saya ingat, yang merupakan usaha penipuan :

Cerita yang pertama, mengenai akun perbankan daring. Penelpon mengaku dari bank, menginformasikan bahwa mulai bulan depan akun perbankan daring yang saya miliki akan dikenai biaya Rp 150.000,- per bulan. Tetapi karena Saya adalah pelanggan terpilih, maka saya diberi kesempatan untuk bisa mendaftarkan akun tersebut supaya gratis.

Untuk memastikan tidak ada kesalahan, saya diminta menginformasikan data2 saya, seperti nama lengkap, nomor kartu, dan lain-lain.

Saat itu saya tidak memberikan data-data yang ditanya, tetapi saya bilang kepada penelpon, nanti saya saja yg urus ke bank langsung.

Penelpon tidak langsung menyerah, tetapi mengatakan bahwa program ini hanya ditawarkan by phone dan hanya ditawarkan 1 kali saja.

Tetapi saya tetap tidak mau, dan saya bilang kepada penelpon, ya sudah, saya dikenai biaya saja tidak apa-apa. Paling nanti akunnya saya tutup saja. Setelah saya jawab begitu, telepon langsung diputus.
Segera saya menghubungi pihak Bank untuk menanyakan hal tersebut. Dan operatornya menjelaskan bahwa program tersebut tidak benar dan bukan dari bank.

Operator bank juga menyarankan supaya tidak memberikan data apapun melalui telepon, karena pihak Bank tidak akan pernah meminta data dari nasabah melalui telepon.
Operator juga menyarankan supaya akun saya diblokir dan saya mendaftarkan akun baru.

Cerita yang kedua, mengenai kartu kredit. Saya menerima SMS nomor otorisasi untuk transaksi Online. Karena saya tidak melakukan transaksi apapun, saya segera menelpon bank yang bersangkutan.

Untuk menanyakan mengenai SMS tersebut. Operator menginformasikan bahwa SMS tersebut karena ada transaksi yang perlu diotorisasi.

Operator menyarankan apabila transaksi tersebut bukan dari saya, sebaiknya kartu kredit segera diblokir, karena kemungkinan ada Usaha untuk meretas kartu kredit saya.

Saya mengikuti saran dari operator bank dan memblokir kartu kredit saya.

Tidak lama setelah saya menghubungi bank, ada telepon  masuk yang mengaku dari bank yang menerbitkan kartu kredit.

Penelpon menginformasikan bahwa saya mendapatkan cashback Rp 2.000.000,- dari bank. Dan untuk memastikan data saya benar, penelpon meminta beberapa data.

Data yang diminta tentu saja data-data kartu kredit dan nomer otorisasi yang saya terima lewat SMS.
Tentu saja saya tidak memberikan informasi yang diminta oleh penelpon, dan segera menutup telepon.

Pengalaman saya tersebut saya ceritakan, supaya :
Bapak/ Ibu, khusus nya yang memiliki akun perbankan online/ kartu kredit dapat berhati-hati, karena banyaknya usaha penipuan yang dilakukan untuk mencuri dari kita.

Jangan sekali-kali memberikan data-data kita kepada penelpon semenarik apapun tawaran dari mereka.

Demikian cerita dari saya, Semoga dapat bermanfaat.


Situasi yang sering kita hadapi dijaman sekarang, dimana transaksi perbankan sudah bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja secara daring. Situasi ini menyebabkan data perbankan kita ada tersebar di dunia maya, yang akhirnya oleh-oleh peretas dimanfaatkan untuk hal negatif.

Meskipun perbankan sudah mempunyai verifikasi keamanan yang baik, tapi apabila kita si pemilik akun tidak pintar, verifikasi keamanan perbankan tidak ada gunanya. Oleh karena itu, kita wajib waspada dan selalu update informasi, selalu konsultasikan dengan pihak Bank apabila menemukan hal-hal aneh terkait transaksi perbankan, biarkan kita yang menghubungi Bank, jangan Bank yang menghubungi kita, lebih baik buang pulsa sedikit untuk mencegah penipu mengelabui kita.

Semoga catatan ini bermanfaat, ditulis dan disharingkan oleh LHK melalui milis office. Saya bagikan kembali di sini setelah mendapat ijin yang bersangkutan untuk dishare.cpr.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sani Dewa Pelindung Saturnus, Sang Dewa Penghukum

Pengadilan dan Kejaksaan Negeri untuk Proses Ambil Sitaan Tilang