Beratnya Menciptakan Keluarga Ideal, Surga dalam Keluarga

Membangun keluarga ideal atau punya keluarga ideal menjadi tujuan dan harapan semua pasangan yang memutuskan untuk menjalin relasi hidup bersama atau berkeluarga. Menyatukan dua pribadi yang berbeda latar belakang menjadi satu kesatuan utuh yang tak terpisahkan jadi suatu tugas yang cukup berat. Namun seharusnya ringan jika dipikul bersama.

Kelihatannya sekedar menyatukan menjadi hal yang mudah, iya apabila hanya mengucapkan kata "sah" atau "resmi" atau sebutan lain, itu mudah. Tapi membuatnya menjadi satu pemikiran, satu pandangan, satu arah demi tujuan bersama itu sepertinya sulit dan tidak mudah. Banyak hal yang menjadi faktor masalah pemecah hubungan tersebut.

Setidaknya begitu yang terjadi menurut pengamatan saya dan sekaligus mengalami sebagai anak dalam suatu keluarga yang tidak begitu harmonis.

Untuk urusan pribadi, saya sendiri belum mancapai fase dimana 1+1 = 1 yang "sah" atau "resmi" itu dalam lembaga yang dikenal dengan nama perkawinan atau pernikahan. Justru yang ada, baru fase awal saja mewujudkan 1+1 hasilnya tetaplah 2, yang ujungnya adalah perpecahan. Masing-masing merasa sudah mengalah, ditambah lagi salah satunya merasa sudah sampai pada batasnya. Situasi yang semakin mempersulit keadaan.

Masalah lain yang jaman sekarang sedang ramai dipergunjingkan adalah soal WIL atau PIL, atau jaman now lebih familiar disebut pelakor dan pebinor. Yups, perselingkuhan, jadi masalah penyebab retaknya relasi pernikahan. Itu baru satu masalah penyebab rusaknya suatu hubungan. Ada masalah lain soal ekonomi, prinsip, keluarga, kesehatan dan lain-lain.

Tahun 2017 yang lalu, istilah pelakor dan pebinor ramai dibahas di sosial media, menjelang akhir 2017 sudah sedikit meredup. Eh ternyata awal tahun 2018, media kembali diramaikan dengan pemberitaan Basuki Tjahaya Purnama dan istrinya Veronika Tan yang pernikahannya berada diujung tanduk, yaitu perceraian. Ahok kerap disapa, melayangkan gugatan cerai terhadap istrinya Vero.

Berita ini bak petir disiang bolong. Karena, keluarga mereka selama ini mendapatkan stampel keluarga ideal, namun ternyata ada udang dibalik batu. Ternyata bukan jaminan keluarga yang adem ayem tidak punya masalah, bahkan kenyataan justru yang seperti inilah yang berbahaya, masalahnya lebih kompleks.

Media melalui netizen bertanya-tanya, apa yang menjadi alasan pengajuan gugatan ini. Ada yang berspekulasi soal pertentangan prinsip soal Ahok yang akan kembali berpolitik selepas bebas, kemudian soal Ahok yang pindah agama, bahkan hingga isu perselingkuhan. Spekulasi yang terakhir inilah yang jadi kemungkinan terbesar alasan perceraian.

Istilah "good friend", jadi istilah baru yang mungkin akan viral, jadi kata pengganti PIL. Entahlah apa yang mendasari pihak tergugat melakukan hal ini.

Sejak masalah ini terungkap ke publik, banyak media coba mengulas soal perselingkuhan, dilihat dari faktor penyebab, kemudian dari sisi psikologis. Kita hanya bisa menerka dan mengira apa penyebabnya, melihat dari sisi faktor penyebab dan sisi psikologis penyebab perselingkuhan terjadi.



Namun satu hal saya catat, baik pria maupun wanita punya potensi dan peluang yang sama untuk berselingkuh. Jadi, tidak hanya pria saja yang mampu melakukan itu, wanita pun bisa. Bukan karena soal emansipasi wanita atau kesetaraan gender, tapi pada dasarnya manusia adalah sama, apapun kelaminnya, yang membedakan hanya pendekatan perselingkuhannya.  Jika pria menggunakan pendekatan fisik, wanita lebih ke hati. Meski begitu. Tidak menutup kemungkinan pendekatan fisik digunakan wanita after pendekatan hati, dan pria pun sama after pendekatan fisik biasanya pendekatan hatinakan muncul.

Kembali ke topik yang dibahas di sini. Ini baru satu masalah penyebab perpisahan dalam keluarga. Masih ada lagi hal lain yang menyebabkan kompleksitas masalah. Tapi, masalah ini dianggap lebih sulit, karena berhubungan dengan pengingkaran atau pengkhianatan. Dampak psikologis korban pengingkaran atau pengkhianatan sangat berkesan, dan bisa jadi traumatis tersendiri yang terkadang sulit melupakan.

Hal ini yang kemudian menjadi alasan kenapa solusi untuk penyelesaian masalah akan nampak sulit. Solusinya adalah rekonsiliasi, permohoman maaf dan janji tak melakukan kembali harus dilakukan oleh tergugat. Penggugat harus melakukan rekonsiliasi dengan memaafkan. Kuncinya hanya itu. Karena hanya pengampunan yang dapat memberbaiki rusaknya sebuah relasi, apalagi relasi yang pada awal didasari cinta. Karena pengampunan itu pula yang akan menumbuhkan kembali rasa cinta itu.
                                                                                
Setidaknya itulah yang sering dikisahkan mereka yang sudah makan asam garam kehidupan berkeluarga cukup lama, pengalamanlah yang memberikan solusi untuk mengembalikan hubungan yang sudah rusak. Hanya saja, tidak banyak yang mau melakukan itu. Itulah kenapa, relasi keluarga banyak yang tidak bisa diselamatkan, yaitu karena tidak adanya pengakuran rasa bersalah dan tidak ada pengampunan.
Bagi keluarga baru, permasalahan seperti ini jika berakhir perpisahan korbannya hanya mereka berdua, baik pria dan wanita. Tapi jika sudah menjadi keluarga, ada anak yang akan jadi korban, berapapun usia anak, dampak psikologis akan sangat berpengaruh pada kehidupan anak ke depannya. Saya bisa memahami hal ini, karena saya pernah menjadi seorang korban.

Meskipun tahu, apa solusinya, saya menyadari kesulitan soal mengakui kesalahan dan pengampunan. Bagi pria, mengakui kesalahan dan memberikan pengampunan adalah "memalukan", ibarat menjatuhkan harga diri. Namun bagi wanita mengakui kesalahan dan memberikan pengampunan adalah sangat mungkin. Tapi seiring berjalannya waktu, kemiripan pria dan wanita makin nyata, kini wanita pun punya peluang yang sama.


Jika ini yang terjadi, keluarga ideal atau keluarga samawa atau keluarga kudus menurut iman yang saya akui tidak akan pernah terwujud. Bukannya menciptakan surga di rumah, yang ada hanyalah neraka di dunia.

Apa yang dialami keluarga Pak Ahok hendaknya jadi bahan pelajaran kita semua, siapapun keluarganya bisa mengalami hal seperti ini. Bahkan jauh sebelum keluarga Pak Ahok diterpa badai seperti ini, banyak keluarga publik figur lain yang lebih dulu diterpa badai, bahkan hingga luluk lantak. Saya berharap, ada solusi positif untuk memperbaiki yang sudah hancur, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki.

Kesimpulannya memang menciptakan keluarga yang ideal itu tidaklah mudah jika hanya dilakukan salah satu pihak saja, semua unsur dalam keluarga harus punya tujuan sama dan melebur ego masing-masing menjadi satu tujuan bersama. Tapi jika itu tidak mampu diwujudkan, jangan harap menciptakan surga dalam sebuah keluarga.

Semoga Tuhan selalu menyertai semua anggota keluarga, dalam memikul salibnya masing-masing. Semoga bisa jadi pelajaran calon-calon pasutri dan keluarga-keluarga muda, demi terwujudnya harapan menciptakan keluarga yang diidamkan.cpr.

Komentar

  1. Intinya dalam hal hidup berumah tangga memang tak selalu harus mulus ... Terkadang untuk menjadi hal yang sederhana pun kita perlu waktu dan penerapan yang serius...

    Bahkan ada pula yang telah membina mahligai rumah tangga bertahun-tahun harus kandas ditengah jalan tanpa ada arah penyelesaian yang kongkrit...😃😃

    Semuanya itu akan terasa mudah bila hati kita serta pasangan kita selalu jujur terbuka serta apa adanya...Tanpa harus melihat orang lain atau tengak tengok sana sini yang belum tentu kita bisa seperti itu...😃😊😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jujur itu lebih baik, jangan ada dusta diantara kita hahaha

      Hapus
  2. Wah berat ini

    Aku masih bujangan hahahahahhaahha

    But iya sih, pelakor dan pebinor lagi ngetrend banget di Indonesia belakangan ini. Ramai banget jadi perbincangan, apalagi banyak kejadian pada tokoh-tokoh public yang tentu aja disorot oleh semua orang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yg msh bujangan, tgs berat membuktikan jika kita bs. Sy jg msh single, beruntung lh, bs bljr dri mslh mrk2 itu.
      Bukan bgtu shrs nya, pnglaman adlh guru pling bhrga.

      Hapus
  3. Wahaha setiap baca pelakor aku ngakak ih, semoga keluarga selalu harmonis ya kak :) aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pelakor/ pebinor jg sbnr ny gk akan laku kalau gk drespon. Kalau direspon ya #bubar

      Hapus
  4. Setiap rumah tangga pasti ada permasalahannya, permasalahan pastinya ya berbeda-beda. Semua tergantung dari kedua belah pihak, jalan terbaik pada mereka. Orang lain tidak boleh menghukum atau menghakiminya.
    Eh.. ini template ada link tersembunyi, jika diklik mengarah ke situ lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener mas.
      Saya kira sy aj yg ngrasain, dl2 gk bgni, emg ni suka aneh, jd suka dialihkan ke situs perujuk lain. Cm sy cek dimana ny sy krg tw nih.
      Kira2 ngcek nya gmn mas? Ini seperti duri dalam daging di "rumah", udah seperti pelakor dan pebinor nih di blog sya hahaha

      Hapus
  5. Berumah tangga memang tak semudah dan lancar sperti jalan tol
    setiap permasalahan pasti akan hadir
    semua tergantung komitmen masing masing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yg jadi masalah memang komitmennya itu, hanya manis di awal pahit di akhir. Semoga jd pelajaran. Banyak yang mengerti namun sulit melakukan. Reminder buat yang muda-muda, termasuk saya juga nih ;), dan banyak belajar dari yang tua-tua yang nyaris berhasil berdua sampai akhir hayat

      Hapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejak, jika anda mampir ;p Terima kasih atas kunjungannya - cocoper6

Postingan populer dari blog ini

Sani Dewa Pelindung Saturnus, Sang Dewa Penghukum

Pengadilan dan Kejaksaan Negeri untuk Proses Ambil Sitaan Tilang