Penyebab Ketidaktertiban di Jalanan Indonesia

Semakin hari, ketidakteraturan di jalan raya republik ini semakin menjadi-jadi, makin banyak pelanggaran lalu lintas yang tidak seharusnya dilakukan malah dilakukan, akhirnya menimbulkan kesemrawutan di jalan, ditambah lagi volume kendaraan terus meningkat pesat dan volume jalan yang makin terbatas. Himbauan, ujaran, ajakan dari kepolisian tidak berdampak banyak, yang ada tertib disaat ada petugas, sisanya masa bodoh. Sedangkan petugas tidak bisa 24 jam menjaga di semua titik jalanan di negeri ini.

Saya juga bukan pengendara yang tertib, ada kalanya saya juga melanggar marka, menerobos lampu lalu lintas ketika warnanya tidak hijau, melintas di trotoar/ pedestrian, berhenti di titik dimana ada rambu "S dicoret", parkir di lokasi yang bukan peruntukannya, melawan arus demi mempersingkat jarak dan waktu, berbelok tidak memberikan tanda, berputar balik di titik yang dilarang melakukannya, tetap melintas perlintasan rel kereta api meski palang pintu sudah tertutup, tidak berlaku sabar dan santun ketika berkendara dan banyak hal lain yang ada aturannya tapi terkadang karena alasan yang "dibenarkan sepihak" sering saya langgar. Meskipun tidak setiap saat, hanya disaat-saat tertentu. Saya sadar, saya salah, saya pun jadi bagian menciptakan kesemrawutan dan ketidakteraturan yang terjadi.

Dari kesemuanya itu, saya mencatat ada beberapa sebab yang menjadi faktor pendorong kita ini jadi pelaku pelanggaran lalu lintas dan penyebab keruwetan yang terjadi di jalan.

Alasan Efisien Waktu dan Jarak dan Biaya Bahan Bakar
Dalam berkendara, waktu, jarak dan konsumsi bahan bakar jadi patokan penting ketika kita berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Apalagi ketika jarak dekat waktu tempuhnya relatif lama, tidak sebanding dengan kecepatan rata-rata seharusnya. Namun, dikondisi jalanan sekarang ini, kita tidak bisa melakukan efisiensi waktu karena infrastrukturnya tidak mendukung. Kita sebenarnya ingin menuju lokasi yang letaknya hanya beberapa meter di depan, namun terpisah oleh jalanan atau separator. Logikanya, hanya butuh waktu beberapa menit saja untuk menjangkau lokasi tersebut. Namun, karena infrastruktur yang tidak mendukung hal tersebut, akhirnya butuh waktu dan jarak yang tidak sedikit untuk dihabiskan. Putar balik yang diharuskan jauh, kemudian lokasi JPO yang tidak strategis. Akhirnya, banyak yang ambil jalan pintas, pejalan kaki melintas di jalan raya mengganggu pengguna jalan lain untuk memotong menyebrang jalan. Pengguna kendaraan bermotor akhirnya memaksakan diri berputar arah di titik yang tidak seharusnya, bahkan dengan aksi melawan arus atau memotong jalur sebisanya. Ini jadi sumber ketidakteraturan.

Ketidaksabaran
Kondisi ketidakteraturan yang terjadi membuat arus kendaraan menumpuk di titik yang terjadi hambatan. Seperti air sungai yang terhambat alirannya karena sampah, pada akhirnya meluber ke titik yang tidak seharusnya. Sama juga di jalan raya ini, ketika ada hambatan di depannya, akhirnya banyak pengguna jalan yang mencoba memaksakan diri terus maju, karena ketidaksabaran menunggu. Akhirnya, sisi badan jalan "dimakan", trotoar/ pedestrian "disikat", jalur khusus (seperti jalur TransJ) "dilibas" juga. Bahkan kalau mungkin jika kendaraan itu ringan, bisa diangkat lho.

Ketidakpercayaan Terhadap Orang Lain
Ketidaksabaran ini terjadi karena ketidakpercayaan terhadap pengguna jalan lain di depannya mampu menyelesaikan "masalah" hambatan yang terjadi di depannya. Menganggap pengendara lain bodoh, tolol, bego itu yang ada dipikiran si pengguna jalan yang tidak sabar. Karena memang ada kalanya, masalahnya simpel, namun karena mungkin "kebodohan yang tidak sengaja", berujung jadi tidak bisa berpikir jernih. Bisa juga, karena terlalu sabar menunggu, akhirnya kesabaran ini dianggap kebodohan oleh pengguna jalan di belakangnya yang merasa terhambat.
Contoh: Hal simpel, terjadi di persimpangan berlampu lalu lintas. Ketika lampu sudah berwarna hijau, terkadang ada pengguna jalan yang tidak sigap langsung jalan, terkadang ada yang butuh jeda beberapa detik akibat keasikan berhenti, akhirnya pengendara lain di belakangnya "ribut", dengan membunyikan klakson, berteriak dsb. Mungkin saja pengendara di depan, memang tipe pengendara yang lambat/ tidak cekatan atau ada hal lain yang membuat demikian. Namun hal ini tidak bisa dipahami oleh yang lain.

Kondisi Infrastruktur yang Tidak Mendukung
Kalau ini sudah jelas dan pasti, karena infrastruktur yang ada tidak mampu mengimbangi pertumbuhan kendaraan yang terjadi. Pada akhirnya, terjadi pembludakan kendaraan di jalan yang begitu-begitu saja ukurannya. Jadi mau tidak mau akan ada penumpukan kendaraan di titik tertentu. Solusinya ya sebatas solusi sementara, yakni merubah rambu dan lokasi-lokasi penumpukan direlaksasi. Relaksasi menurut saya ini adalah dipanjangkan jaraknya, supaya kepadatan terurai. Dampaknya adalah inefisiensi jarak tempuh, waktu dan biaya BBM.
Contoh, arus dari Jakarta - Bogor, di Depok, U Turn di depan Dealer Chevrolet dan Depok Town Square. Apabila terjadi penumpukan kendaraan petugas sering menutup U Turn di lokasi itu, akhirnya kendaraan yang mau berputar arah ke arah Jakarta atau mau masuk ke Depok Town Square harus memutar di lokasi U Turn yang lain, yang jaraknya lebih jauh, belum lagi ditambah hambatan lampu lalu lintas di simpang Margonda Juanda, buang waktu lagi di sana sudah jarak tempuh bertambah. U Turn yang disarankan adalah di depan perumahan Pesona Kayangan, jaraknya cukup jauh dari U Turn pertama. Situasi ini adalah inefisiensi waktu, jarak tempuh dan biaya bahan bakar! Pada akhirnya beberapa pengendara ada yang coba memaksakan diri melanggar rambu di U Turn yang dilarang, melintas trotoar/ pedestrian, lawan arus, dan lain-lain. Itu baru satu contoh, banyak lagi contoh lain di titik lain di jalanan yang ada di Indonesia ini yang seperti itu, akan amat terasa terutama di kota besar.

Jadi Pemicu Emosi Jiwa
Ketidaksabaran dan ketidakpercayaan pada orang lain menjadi potensi meningkatnya emosi jiwa si pengguna jalan. Jadi jangan heran insiden sederhana berlanjut pada pertikaian, adu mulut bahkan adu jotos di jalanan. Tidak ada yang mengalah, merasa diri benar jadi alasan tambahan meningkatnya emosi jiwa ini. Didukung pula misalnya cuaca sedang panas terik. Memang sih, tidak menutup kemungkinan cuaca mendung, berawan bahkan hujan sekalipun emosi jiwa tidak naik pada situasi insiden sederhana di jalan. Keadaan ini, pada akhirnya memperparah keruwetan dan kesemrawutan di jalan raya.

Kesadaran yang Rendah, Egoistis
Situasi yang sudah kacau balau itu, ditambah kurangnya kesadaran diri si pengguna jalan dan sifat egoistis dari masing-masing individu pengguna jalan.
Contohnya: Supir-supir kendaraan umum, angkutan kota yang dikelola bukan oleh pemerintah. Mereka ini jadi biang tambahan ketidakteraturan. Kesadaran yang rendah akan lingkungan jalan di sekitar dan sifat egoistis mereka (bahwa mereka cari nafkah, kalau tidak begitu tidak dapat uang, tidak bisa bayar sewa mobil dan lain-lain) jadi pembenar mereka melakukan ketidakteraturan. Mereka ini asyik saja memberhentikan atau menunggu penumpang di titik yang tidak dianjurkan. Menjadi hambatan parah karena hampir semua supir-supir ini punya karakter sama, jadi jangan heran jika ada titik di jalanan nampak seperti terminal angkutan umum. Belum lagi, kendaraan yang tidak layak namun si supir tidak sadar diri, mengemudi di jalur yang mengganggu pengguna jalan lain.
Contoh lain: Kesadaran yang rendah dan sifat egoistis ini tidak hanya datang dari mereka supir-supir angkutan umum. Pengguna jalan lain, seperti kendaraan pribadi mewah dan motor besar pun terkadang berlaku arogan, mau enaknya sendiri ingin diprioritaskan. Alasan simpelnya, ego mereka karena merasa membayar pajak lebih besar dari pemilik kendaraan lain jadi sifat ego yang membesar membuat mereka terkadang mau menang sendiri.
Contoh lain: Pengguna jalan pejalan kaki. Sifat ego mereka juga sering muncul, karena mentang-mentang dapat prioritas. Pejalan kaki memang sudah diarahkan ke trotoar/ pedestrian untuk melintas di jalan (disediakan jalur khusus), untuk menyebrang disediakan JPO. Tapi ada saja pejalan kaki yang jalan di jalan raya yang harusnya untuk kendaraan bermotor padahal ada trotoar/ pedestrian di sebelahnya, entah apa alasan dibenak si pejalan kaki ini. Kemudian, karena naik JPO harus habiskan energi naik tangga, banyak pejalan kaki dengan santainya melenggang di bawah JPO menyebrang seenaknya akhirnya menghambat arus kendaraan di titik itu. Hal ini terjadi di JPO Lenteng Agung. Banyak orang bodoh jenis ini, melintas di titik ini, baik dari tua muda, berpendidikan sampai yang tidak, pengangguran sampai yang bekerja. Semuanya tidak punya kesadaran yang layak.

Rendahnya Pengetahuan Tentang Aturan Lalu Lintas dan Etika Berkendara
Kebanyakan pengendara kendaraan dan pejalan kaki tidak mengetahui aturan tentang lalu lintas serta etikanya. Mereka hanya tahu bagaimana melajukan kendaraannya dan melangkahkan kakinya. Jadi ketika ada masalah di jalan, solusinya bukan berdasar akal sehat tapi berdasarkan hukum alam/ rimba. Jadi wajar saja, jika terjadi masalah semua merasa dirinya benar.


Ya itulah serba-serbi yang terjadi di jalanan, yang lebih banyak menggambarkan ketidakteraturan dan kesemrawutan. Dimana kondisi ini terjadi setiap hari, setiap saat dimana kita berada, terutama jika sedang ada di jalan. Perlu usaha lebih keras untuk merubah semuanya. Buat saya pesimistis semua itu bisa berubah, karena ini Indonesia. Sulit buat Indonesia berubah, jika tidak dimulai dari diri sendiri.

Saya kebetulan sudah menyadari situasi ini, mencoba melakukan yang terbaik untuk tidak memperkeruh situasi. Menjadi tertib memang berat, ketika pengguna jalan lain tidak melakukan demikian, seperti "melawan arus sungai". Tapi jika mau berubah, mulailah dari diri sendiri.

Pendidikan berlalu lintas dan etika berlalu lintas ada baiknya dimasukan dalam kurikulum pendidikan sejak dini, dengan porsi yang dibagi-bagi sesuai jenjang pendidikannya, sehingga sedari dini kita sudah sadar bagaimana berlalu lintas yang baik. Entah nantinya mau jadi jadi pejalan kaki, jadi supir, jadi pengendara kendaraan pribadi baik motor maupun mobil dan lain-lain, pada intinya ketika menggunakan jalan raya wajib paham tentang bagaimana berlalu lintas yang baik dan benar.

Jika ini semua terjadi, barulah tercipta situasi kondusif di jalanan. Jika yang terjadi sebaliknya, jangan harap jalanan di Indonesia manusiawi digunakan sebagaimana mestinya. Beberapa poin catatan akan ditambahkan diwaktu yang akan datang, karena situasi ini akan berlangsung cukup lama sampai beberapa generasi, karena sulit bagi Indonesia untuk berubah dalam waktu dekat.cpr

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sani Dewa Pelindung Saturnus, Sang Dewa Penghukum

Pengadilan dan Kejaksaan Negeri untuk Proses Ambil Sitaan Tilang