Kenapa Simeon dan Hana, Jadi Nama untuk Kelompok Lansia

Pernahkah mendengar nama kelompok Simeon Hana ketika pengumuman gereja? Pasti pernah lah ya, kalau tidak pernah pasti jarang ke gereja buat yang Kristiani. Ya biasanya, paroki atau gereja pada umumnya memberi nama kelompok lansia dengan nama ini.

Gereja selalu memperhatikan semua kelompok yang terlibat dalam karya kerasulan gereja, terhadap keluarga ada ME (marriage encounter), kaum muda (OMK, KMKKP, Komkep dan organisasi kepemudaan-kepemudian lainnya), anak-anak (sekolah minggu), kelompok suami/ pria (misalnya Priskat) atau kelompok istri/ wanita (misalnya Waberkat, WKRI: Wanita Katolik Republik Indonesia dan lain-lain). Ada satu kelompok lagi yang juga tidak dilupakan adalah kelompok lansia atau orang tua yang sudah lanjut usia atau jompo, kelompok ini sering menggunakan sebutan Simeon Hana.

Tujuan dari kelompok-kelompok ini dibuat untuk memupuk iman akan Kristus tidak hanya dari sisi pemahaman mendalam dalam iman namun juga dalam tingkah laku tindakan sehari-hari, membuat karya Kristus lebih nyata dalam kehidupan di semua kelompok umur.

Nah, setelah sekian lama, saya baru memahami asal penyebutan nama Simeon Hana. Pada awalnya saya mengira Simeon Hana merupakan suami istri yang sudah lanjut usia, yang hidupnya berpegang teguh pada Allah. Namun ternyata agak berbeda dari yang saya  kira. Hari ini, pada Pesta Keluarga Kudus, melalui Kitab Suci, saya diberitahu tentang hal tersebut.

Siapa Simeon dan Hana dikisahkan pada bacaan Injil hari ini, berdasarkan Lukas 2:22-40. Mereka bukanlah suami istri, mereka punya latar belakang kehidupan masing-masing. Simeon mewakili dari opa, kakek, eyang kakung. Hana mewakili dari oma, nenek, eyang putri.

Ilustrasi

Dikisahkan, Simeon adalah orang yang benar dan saleh hidupnya. Dia hidup untuk menantikan penghiburan bagi Israel. Dikisahkan roh kudus ada di atasnya, dikatakan bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Simeon atas dorongan roh kudus datang ke Bait Allah. Kebetulan Maria dan Yusuf membawa Kanak Yesus ke sana dalam rangka menunaikan apa yang ditentukan Hukum Taurat. Simeon menyambut Anak itu dan menatang Nya sambil memuji Allah.
"Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat Mu."

Tidak hanya itu, ada pula pesan Simeon kepada Maria ketika Simeon memberkati mereka (Maria, Yusuf dan Yesus).
"Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan -- dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri --, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."
Sebuah berkat dan doa, yang pada akhirnya memang menjadi kenyataan. Setidaknya saya menganggapnya seperti itu.


Kembali ke tokoh satu lagi, yaitu Hana. Siapakah Hana ini? Masih dibacaan yang sama dikisahkan bahwa di Yerusalem ada nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer yang bernama Hana. Hana adalah seorang janda yang sudah lanjut usia, Hana pernah menikah dan suaminya meninggal lebih dulu. Umur Hana saat itu 84 tahun. Hana adalah wanita tua yang taat beribadah. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah, siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Di hari yang sama ketika Kanak Yesus dibawa Maria dan Yusuf ke Bait Allah, Hana berbicara tentang Kanak Yesus kepada semua orang.


Mungkin karena kisah inilah kedua tokoh ini jadi panutan gereja, sebagai "pelindung" bagi kelompok lansia, alasannya adalah hingga lanjut usia tidak mengurangi ketaatan dan kesalehan untuk selalu dekat pada Tuhan. Menantikan dengan tangan terbuka akan janji Tuhan hingga akhir hayat.

Gereja Katolik merupakan salah satu gereja yang menganggap penting tokoh Simeon, pesta untuk menghormatinya diperingati setiap tanggal 3 Februari. Meskipun ada gereja lain yang memperingati ditanggal yang berbeda. Tempat ziarahnya ada di Church of St. Simon di Zadar.

Dalam Alkitab saya temukan ada dua tokoh bernama Hana, entah apakah merupakan orang yang berbeda atau sama. Namun, kedua tokoh ini mengajarkan segala sesuatu yang baik, mengajarkan kita percaya pada janji Allah pada kita manusia. Mungkin, dicatatan lainnya saya akan catatankan kisah Hana satu lagi. Tapi, memang tidak salah gereja memilih Hana sebagai panutan sosok orang tua.

Intinya adalah percaya akan janji Allah pada kita, jangan pernah ragu, percayalah jalan Nya tidak akan pernah salah.

Ya inilah catatan sekaligus jawaban tentang pertanyaan saya sebelumnya tentang sosok Simeon Hana yang namanya sering digunakan sebagai kelompok lansia di beberapa paroki. Tidak hanya jawaban terjawab, tapi teladannya bisa jadi pelajaran berharga bagi saya pribadi. Salam, berkah dalem, Tuhan memberkati selalu.cpr.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sani Dewa Pelindung Saturnus

Trip Balik, Mof – Makassar – Surabaya – Cirebon (1)

Pengadilan dan Kejaksaan Negeri untuk Proses Ambil Sitaan Tilang