Apa Itu Petir atau Halilintar?

Pulang kantor menjelang malam, tiba-tiba hujan turun "bress", basah lagi aja deh kalau begini. Lagi hujan-hujan, tiba-tiba ada kilatan cahaya nampak membelah langit. Melihat kilatan itu, badan langsung merespon dengan "kuda-kuda", ya siap-siap barangkali ada suara menggelegar mengikuti. Karena lagi mengemudi, jadi hanya gestur kuda-kuda aja, antisipasi kaget. Tapi kalau lagi tidak ngapa-ngapain, pasti langsung reflek tutup telinga. Kali ini tumben, tidak ada suara gemuruh "blegur gluduk-gluduk". Biasanya, habis ada kilatan cahaya itu, ada aja suara geluduk, malah kadang suaranya keras seperti suara dahan patah frontal.

Sambil berkendara nikmati rintik hujan, terpikir beberapa pertanyaan, apa dan bagaimana sih kilatan cahaya yang dikenal petir atau kilat atau guntur atau halilintar atau "gluduk" itu terjadi?

Petir atau kilat atau halilintar dan kedepannya akan saya sebut petir, merupakan salah satu fenomena alam, yang terjadi sesaat dan ketika sedang hujan. Biasanya, setelah kilatan cahaya muncul, akan disusul dengan suara gemuruh, orang lebih kenal dengan guruh atau gluduk. Perbedaan suara dan cahaya ini adalah akibat perbedaan kecepatan suara dan kecepatan cahaya, makanya ya seperti delay. Cahaya jauh lebih cepat dibandingkan suara. Kecepatan petir sendiri dari langit menuju bumi adalah 300.000 km/ jam.

Petir menurut Wikipedia merupakan gejala alam, yang bisa dianalogikan atau disimulasikan sebagai suatu kondensator atau kapasitor raksasa. Dimana ada lempeng yang bermuatan negatif atau positif, yaitu awan. Lempeng lainnya adalah bumi, yang bersifat netral. Dalam suatu rangkaian listrik, kondensator atau kapasitor berfungsi menyimpan energi sesaat.

Petir sendiri terjadi akibat suatu perbedaan muatan antara awan, awan yang bermuatan negatif dan yang bermuatan positif. Perbedaan ini pun terjadi antara awan dan bumi. Muatan energi (listrik) terjadi karena awan bergerak terus-menerus secara teratur. Selama pergerakan ini antara awan satu dan yang lainnya, maka energi muatan negatif akan berkumpul di salah satu sisi awan, dan muatan positif berkumpul di sisi sebaliknya.  Apabila perbedaan potensial yang terjadi cukup besar, maka akan dilakukan pembuangan muatan negatif dari awan ke bumi. Pembuangan ini terjadi secara alamiah, agar muatan di awan mencapai keseimbangannya. Pembuangan muatan negatif ini adalah melalui udara. Kilatan cahaya inilah merupakan bentuk kilatan-kilatan muatan yang dibuang, yang disebut elektron. Muatan ini punya energi listrik. Itu kenapa, orang yang tersambar petir, nampak seperti korban tersetrum dengan arus yang sangat besar. Aliran elektron terjadi juga diantara awan satu dengan awan yang lainnya.

Beberapa kejadian manusia menjadi korban tersambar petir, baik yang selamat dan tidak, juga beberapa penampakan petir yang sempat terekam kamera video. Bisa dilihat dibeberapa video di bawah ini, yang saya peroleh dari channel youtube:








Nah, lalu dari mana sumber suara guruh yang muncul setelah ada kilatan cahaya tersebut? Pada saat pembuangan muatan elektron ini, elektron mampu menembus ambang batas isolasi udara, pada saat inilah terjadi ledakan suara yang kita kenal dengan sebutan guntur, guruh, gluduk. Pada saat hujan, udara menjadi banyak mengandung air membuat kadar isolasinya turun dan arus lebih mudah mengalir.

Lalu bagaimana kita menghindar atau supaya selamat dari petir ini? Sebenarnya tidak hanya manusia, tumbuhan atau hewan saja yang rentan terhadap petir, alat-alat elektronik di rumah pun rentan rusak jika tersambar petir. Namun untuk rumah atau bangunan, bisa ditangkal dengan alat penangkal petir, berupa tiang tajam yang mengarah ke langit, saya biasa menyebutnya "jarum langit". Penangkal petir merupakan alat yang berupa rangkaian jalur bagi petir untuk diteruskan ke bumi (ground). Energi listrik besar dari langit disalurkan melalui penangkal petir ini untuk dikirim supaya diserap bumi.

Nah itu untuk bangunan, lalu bagaimana kita manusia supaya selamat dari petir? Yang aman ya, di dalam rumah dimana ada pelindung antara kita dan langit yang sedang bermuatan listrik ketika hujan. Hindari lokasi yang terbuka, misalnya padang rumput, lapangan, perbukitan atau punggung gunung yang terbuka. Jangan berlindung di bawah pohon yang tinggi, karena sambaran petir akan menyambar ke puncak yang paling tinggi, energinya akan merambat ke bawah, dan jika kita ada di bawahnya, kita akan sedikit terkena efeknya, sedikit banyaknya tergantung daya listrik yang dihantarkan. Kalau pun harus berlindung di bawah pohon, cari pohon yang lebih pendek dari pohon yang paling tinggi. Hindari penggunaan alat-alat yang memancing petir, terutama alat yang menghantarkan listrik atau gelombang seperti telepon seluler, HT, GPS, radio. Gunakan alas tubuh yang bersifat konduktor, sehingga meminimalisir sentuhan tubuh dengan bumi/ tanah.


Dampak Tubuh yang Terkena Petir
Apa daya, usaha menghindar sudah dilakukan, tapi tetap saja ada saja apes-apes kena petir juga, dan untungnya masih selamat. Apa sih yang kita alami?

Kalau kasat mata, ya jelas gosong, seperti terbakar atau tersetrum listrik tegangan tinggi. Bahkan, ada yang bisa merusak tubuh karena energi petir yang luar biasa. Tenaga listrik yang dihantarkan itu kurang lebih 300 kilovolt. Ketika tersambar, tubuh kita hanya dilalui tegangan listrik selama tiga milidetik. Namun efeknya luar biasa, yaitu luka bakar dengan kualitas stadium tiga. Dimana luka bakar sudah merusak jaringan bawah kulit. Akibat sambaran ini, membuat suhu di sekitar tubuh kita meningkat mencapai 50.000 derajat fahrenheit. Itu sebabnya, kenapa efeknya selalu gosong. Bagian tubuh atau kulit yang terkena aliran listrik dari petir ini, akan berbentuk seperti guratan akar. Guratan akar ini dikenal dengan sebutan 'lichtenberg figure'. Guratan ini disebabkan karena pembuluh darah yang pecah secara mendadak akibat aliran listrik dengan suhu 27.000 derajat celcius.

Selain rusaknya jaringan bawah kulit. Serangan petir terhadap tubuh juga bisa menyebabkan gagal jantung. Pembuluh darah akan terbakar akibat menjalarnya energi listrik dan panas yang luar biasa. Hentakan yang frontal pada tubuh juga menyebabkan gangguan pada sistem pernafasan. Energi yang besar ini pun mampu menembus otak, dan merusak sistem saraf, dapat menyebabkan kelumpuhan total. Apabila pun selamat, akan berdampak pada masalah perkembangan otak itu sendiri, yang efeknya terhadap perilaku sel akan berubah, perubahan kepribadian, suasana hati yang mudah gonta-ganti, serta hilang ingatan. Secara fisik, sangat mungkin untuk mereka yang selamat dari sambaran petir untuk mengalami hilang kontrol terhadap otot, layaknya parkinson.


Betapa mengerikannya jika terkena petir ini. Oleh karena itu, berhati-hatilah, jangan menganggap remeh kilatan cahaya ini. Meski indah jika dinikmati di tempat yang aman. Petir yang berkilat di langit, merupakan karya seni alami yang indah.

Sekian dulu deh catatan saya tentang petir, setidaknya sudah cukup membayar rasa penasaran saya tentang apa itu petir. Semoga informasinya ini bermanfaat.cpr.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sani Dewa Pelindung Saturnus, Sang Dewa Penghukum

Pengadilan dan Kejaksaan Negeri untuk Proses Ambil Sitaan Tilang