Berkendara Tanpa Alas Kaki di Musim Hujan

Nyeker alias bertelanjang kaki ketika berjalan katanya ada baiknya, sebagai sarana refleksi di bagian telapak kaki. Tentunya dengan catatan jika dilakukan di tempat yang semestinya, seperti batu-batu alam dengan kontur bulat kecil, biasanya batu-batuan hias yang biasa ada di taman.

Dulu, bisa sih kita bertelanjang kaki ketika pagi hari, sambil lari pagi, bertelanjang kaki di aspal jalanan. Kerikil kecil aspal dan kontur aspal yang tidak begitu halus jadi sensasi refleksi tersendiri. Namun bila sekarang kita mau melakukannya perlu memastikan lokasi dimana kita berpijak tidak ada material berbahaya. Mengingat, aspal jalanan sekarang jadi tempat yang cukup berbahaya, banyak partikel-partikel tajam yang bisa melukai telapak kaki kita. Jangankan telapak kaki, ban motor atau mobil dengan kompon karet relatif keras bisa sobek atau tembus oleh partikel-partikel tajam yang ada di jalan, yang mana kita sendiri tidak tahu pasti dimana keberadaannya.

Partikel tajam ini bisa berupa potongan paku yang patah, pecahan kaca sisa laka lantas, patahan cutter atau silet, pecahan kaca barang pecah belah dari piring atau gelas atau bohlam lampu (yang terbuang melalui sampah rumah tangga), belum lagi patahan kawat, atau potongan besi. Semua partikel tersebut bisa saja ada di jalan, terbawa sisa material banjir, terjatuh dari mobil pembuangan sampah, atau tidak sengaja terjatuh, atau akibat laka lantas.

Saya sejauh ini masih jadi pengguna moda kendaraan pribadi, yaitu motor. Terkadang, ketika hujan, saat lupa membawa alas kaki ganti, mau tidak mau daripada sepatu kerja kebasahan karena hujan, akhirnya memutuskan untuk nyeker sambil berkendara motor. Pada awalnya saya masih berpikir apa yang saya lakukan ini tidak ada masalah, why not? Tapi ketika saya menyadari bahwa aspal jalanan tidak seramah seperti yang kita bayangkan, ya seperti yang saya sebutkan tadi di atas, banyak partikel-partikel yang berbahaya tanpa kita sadari, akan membahayakan kaki kita yang tanpa pelindung. Kemudian, tidak selalu kita mengalami kondisi berkendara yang normal, ada kalanya kita mengalami sedikit "sentuhan" atau "manuver" yang sedikit berbahaya, kaki adalah tumpuan penting ketika kondisi seperti itu, apabila kondisi kaki tidak dipersiapkan dengan pijakan baik, maka akan sangat fatal.

Itulah sebabnya, berkendara tanpa alas kaki tidak diajurkan. Bukan saja ketika hujan, tapi juga ketika panas, apapun cuacanya, berkendara yang baik adalah menggunakan perlengkapan standar, berpakaian, berjaket, bersepatu ada baiknya, bersarung tangan, dan berhelm tentunya. Setidaknya perlengkapan tersebut membantu mengamankan diri kita ketika berkendara, meski hal tersebut tidak menjamin keselamatan. Tapi, dengan setidaknya mengusahakan yang terbaik dan tertib serta berhati-hati berlalu lintas, keselamatan yang diusahakan bisa kita peroleh.

Ilustrasi
https://www.waladala.com/wp-content/uploads/2016/01/Tips-Ngeblog-di-Musim-Hujan.jpg

Nah, kebetulan sekarang sudah mulai masuk musim penghujan, bagi pengendara motor, ada baiknya sediakan sepatu cadangan, atau sepatu karet. Gantilah dengan sepatu itu sebelum berkendara, jadi tidak perlu khawatir kena hujan apabila tiba-tiba hujan datang dalam perjalanan. Tambahan, selalu gunakan jas hujan setelan, untuk mengurangi resiko jas hujan tersangkut (apabila menggunakan jas hujan ponco). Apabila terpaksa harus nyeker, pikirkanlah lagi resiko-resikonya, jika sudah siap dengan resikonya, jangan pernah salahkan orang lain apabila ada terjadi pada kaki anda, siapkan mental menerima keadaan pastinya.cpr

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sani Dewa Pelindung Saturnus

Trip Balik, Mof – Makassar – Surabaya – Cirebon (1)

Pengadilan dan Kejaksaan Negeri untuk Proses Ambil Sitaan Tilang