Mengenang Duka Kelam Sejarah Bangsa

Saya masih ingat, ketika masih sekolah dasar, ketika itu masa orde baru. Diakhir September selalu jadi bulan yang dianggap penting untuk mengenang sejarah kelam bangsa. Tragedi pembunuhan Jendral Angkatan Darat, demi sebuah kekuasaan. Beberapa kali saya sempat menonton filmnya, G30S/PKI, sebuah film karya pemerintah Orde Baru, yang ingin membuktikan gerakan komunisme biang kejahatan yang terjadi, yang didalangi PKI.

Seiring berjalannya waktu, rezim pemerintahan berganti, film propaganda ala pemerintah orba tak lagi diputar. Meski begitu, tidak mengubah apa yang sudah terjadi dan diamini seluruh bangsa Indonesia, bahwa komunisme tidak bisa diterima bangsa Indonesia yang telah memilih Pancasila sebagai ideologi yang utama. Sampai akhirnya, kini dimasa pemerintahan Presiden Jokowi, film G30S/PKI kembali diputar, untuk mengingatkan kita akan sejarah kelam bangsa, agar hal seperti ini tidak terulang kembali. Baik oleh penganut komunisme atau paham lain yang ingin melengserkan Pancasila dari ideologi utama bangsa ini.

Mengingat, belakangan ini isu komunisme kembali didengungkan mereka yang punya ambisi merebut tampuk kekuasaan, bak maling teriak maling. Belum lagi, ideologi lain seperti kekhalifahan ingin didirikan di negeri yang sangat heterogen ini. Banyak paham-paham yang ingin dipaksakan berdiri di negeri ini, oleh karena itu, mungkin saja alasan pemerintahan saat ini mencoba mengingatkan kita kembali akan sejarah kelam bangsa karena sebuah ambisi pemaksaan kehendak.

Apapun ideologinya, ketika dipaksakan untuk lahir di sebuah bangsa yang sudah mempunyai akar ideologi yang jelas, adalah suatu usaha yang kontraproduktif.

Yang pasti, selalu ada sengkuni yang memanfaatkan situasi di saat sekarang ini. Tujuannya sudah pasti adalah kekuasaan. Membedakannya sangat mudah, mereka yang sangat berambisi berkuasa, bisa jadi permulaan indikasi. Toh, apabila niatnya membangun bangsa, tidak perlu dengan ambisi, niat yang baik akan mendatangkan jalan yang baik menuju kebaikan. Tapi apabila niat yang baik, terlalu menggebu akan mendorong pelakunya menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Saya jadi teringat, akan strategi seorang mantan militer, dimana katanya ketika musuh sedang mengalami huru-hara atau musibah, itulah saat dimana menyerang, atau bahasa si mantan militer ini adalah 'merampok'. Hmm, strategi yang tidak terpuji sih. Seorang gentlemen, bertarung satu lawan satu, bukan bertindak seperti pengecut.

Sampai saat ini, saya masih meyakini bahwa ada seseorang yang memanfaatkan kemelut yang terjadi ketika masa kelam sejarah bangsa kita di 30 September 1965. Memang ada usaha, ambisi akan kekuasaan dengan memaksakan sebuah ideologi di sana, tapi ternyata ada pihak lain lagi yang memanfaatkan situasi ini untuk kekuasaannya. Analoginya seperti ada tiga-empat orang pebalap motor di sirkuit yang tengah bersaing merebut podium utama. Sejak awal, pebalap pertama berada di depan memimpin lomba, di posisi lain ada yang sedang bersaing memperebutkan posisi pertama. Di posisi lainnya hanya melihat situasi yang tepat untuk merebut posisi pertama. Biasanya, ketika pebalap kedua sedang asyik berduel dengan yang pertama, pebalap yang ketiga dan keempat adalah pebalap yang menunggu kesempatan. Syukur-syukur dua pebalap terdepan terlibat insiden dan out. Atau bisa saja, sedikit 'serangan' kan merusak persaingan keduanya sehingga keduanya kehilangan posisi. Inilah yang terjadi dulu dan sekarang ini. Selalu ada sengkuni dibalik apa yang terjadi.

Oleh karena itu, kita penonton harus berhati-hati jangan sampai terbawa arus. Karena sengkuni ini selalu memanfaatkan kelengahan siapa saja, untuk memuluskan jalan menuju keinginannya. Jadi berhati-hatilah.

Di bawah ini saya lampirkan link terkait film G30S/PKI versi pemerintah orde baru, yang sampai saat ini masih diakui sebagai kisah sejarah yang benar. Namun kisah sesungguhnya, hanya Tuhan yang tahu, siapa sebenarnya aktor lain yang memanfaatkan situasi kelam tersebut. Kalau mau nonton siapin camilan, soalnya filmnya cukup panjang, ada baiknya dibuat dua bagian, supaya tidak ketiduran ketika menontonnya.


Semangat, selamat hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2017, Indonesia tetap Pancasila, dahulu, sekarang dan nanti! Tiada yang lain! Merdeka!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sani Dewa Pelindung Saturnus

Trip Balik, Mof – Makassar – Surabaya – Cirebon (1)

Pengadilan dan Kejaksaan Negeri untuk Proses Ambil Sitaan Tilang