Mangga Sisa Mulut Kampret - "Wajah Ayu Untuk Siapa"

" ... mangga sisa mulut kampret ..."
Itulah sepenggal syair lagu begenre khasidah yang lagi viral. Saya awalnya mendengar dan melihat dari recent video status sosial media salah satu teman. Pada awalnya saya tidak mengindahkannya, karena tampilan video yang kualitasnya rendah dan aliran musiknya gak banget buat saya. Iseng buka IG (Instagram), ada lagi teman yang posting cuplikan lagu yang sama, akhirnya saya kepo mencarinya di kanal Youtube dan mendengarkannya.

Ekpresi pertama kali adalah tertawa geli, mendengar tiap syair lagu ini, plus juga amazing wow, ditengah gempuran musik pop masa kini, hip hop, k-pop, j-pop dan musik barat saat ini, bahkan sampai Agnez Mo yang sudah go internasional, ternyata lagu bergenre khasidah seperti ini bisa viral. Lirik yang unik jadi salah satu alasan, banyak orang jadi kepo mendengar dan melihat video klipnya. Wajar saja, musik bergenre khasidah umumnya hanya didengarkan oleh kalangan tertentu, dan umumnya berisi ayat-ayat kitab suci atau pesan moral lainnya.

Lagu ini sebenarnya berjudul "Wajah Ayu Untuk Siapa". Informasi yang saya peroleh, lagu ini dinyanyikan oleh grup vokal khasidah legendaris Nasida Ria asal Jawa Tengah. Katanya sih, grup ini termasuk grup vokal khasidah modern tertua di Indonesia. Lagu ini merupakan lagu lama, dan akhirnya menjadi viral, hiburan meramaikan sosial media kekinian. Mungkin lirik yang cocok dengan situasi sosial masyarakat saat ini jadi keunikannya, sehingga membuat banyak orang kepo, akhirnya bisa jadi viral. Padahal, postingan v-clip ini di Youtube sudah ada sejak beberapa tahun yang lalu.

Lagu ini membawa pesan, agar sebagai wanita dan istri harus bisa bersolek untuk suami, dan hanya untuk suami saja. Seorang wanita dan sekaligus istri harus mampu melawan atau menangkis serangan 'kampret' yang mengintai. Kampret ini diibaratkan sebagai lelaki perusak rumah tangga orang. Istilahnya mungkin 'pebinor' alias perebut bini orang. Antonim dari istilah 'pelakor' alias perebut laki orang. Dilagu ini, si pebinor dianggap seperti kampret yang hanya mengincar mangga ranum, yang hanya dimakan sedikit lalu ditinggalkan. Makna lagu ini sebenarnya mencerminkan situasi masyarakat yang terjadi jaman sekarang, ketika nilai-nilai keluarga dihancurkan oleh perselingkuhan. Baik yang dilakukan suami atau juga istri. Pada akhirnya membuat angka perceraian meningkat setiap tahunnya.

Saya si tidak ingin menyajikan liriknya di sini, karena saya tidak begitu suka dengan genre musik satu ini. Tapi sebagai sharing saja, saya coba membagikan apa yang saya dengar, saya berikan link video yang saya lihat di Youtube. Barangkali ada yang belum tonton, silakan tonton di bawah ini yak.


Tidak berniat memviralkan, hanya meramaikan sebagai catatan pribadi untuk keleidoskop 2017 di Naturality saja. Sekalian menghibur diri. Okay kalau begitu saya sudahi dulu catatan saya kali ini, sampai jumpa di catatan lainnya.cpr

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sani Dewa Pelindung Saturnus

Trip Balik, Mof – Makassar – Surabaya – Cirebon (1)

Pengadilan dan Kejaksaan Negeri untuk Proses Ambil Sitaan Tilang