Cornering ala Rider Sirkuit

Bagi penggemar balap motor, terutama pentas MotoGP atau World Super Bike atau World Super Sport atau road race atau olahraga balap motor sport lain, pasti tahu bagaimana para rider ketika di tikungan. Yups, para rider pasti akan memiringkan motornya nyaris rebah ketika melintas tikungan dengan kecepatan tinggi. Ada yang seperti Rossi, atau seperti Marquez atau seperti Ben Spies dengan Elbow Down -nya, atau Lorenzo dll. Saat-saat itulah yang sering banyak ditiru kita pengendara motor, terutama kaum laki-laki, karena jarang sekali lady biker yang melakukan hal ini. Meski bukan bermodal motor besar, rebah di tikungan punya kenikmatan tersendiri.

Saya sendiri, jujur menyenangi hal ini. Ada sensasi tersendiri, ketika adrenalin terpacu. Apalagi, ketika bisa merasakan sisi terluar ban kita tergerus aspal. Syaratnya memang harus di aspal yang baik, bersih dari partikel pasir atau cairan yang menimbulkan resiko slip (atau licin). Aspalnya itu sendiri pun diusahakan aspal yang sudah solid, artinya tidak juga aspal yang masih baru. Aspal masih baru cenderung licin, karena permukaannya masih banyak terdapat minyak. Minyak inilah yang akan membuat slip terhadap ban motor. Alasan lain selain ada kenikmatan tersendiri ketika menikung rebah adalah ban kita jadi aus secara merata, baik sisi kiri maupun kanan bahkan bagian tengah.

Hal yang berbeda kita temui pada pengendara wanita. Perhatikan saja, ban motor milik pengendara wanita, pasti sisi ban yang aus adalah bagian tengah, menyisakan sisi kanan dan kiri yang kondisinya masih baik. Tidak semua sih, kadang ada juga pengendara laki-laki yang ban motornya tidak aus sempurna.

Tapi, apa yang dilakukan di jalanan umum sebenarnya adalah tindakan yang tidak tepat, karena jelas akan menganggu pengendara lain, baik pemotor atau pemobil. Kondisi jalanan dan sirkuit sangat berbeda. Jalanan umum punya banyak faktor x yang tidak ditemukan di sirkuit. Faktor x di sirkuit telah dieliminasi sebelumnya, kecuali ada hal aksidental karena alasan tertentu misalnya kecalakaan atau ceceran oli dari motor pebalap. Faktor x ini contohnya partikel padat seperti krikil, pasir, oli/ minyak, air, pecahan kaca atau partikel lain yang bisa jadi resiko yang menganggu kinerja ban untuk menapak sempurna di aspal. Hal lain seperti suhu aspal pun di sirkuit sudah diperhitungkan, apabila tidak memenuhi syarat tertentu, race direction tidak akan menginjinkan menggunakan sirkuit. Contoh, hujan terlalu lebat, panas terlalu terik sehingga suhu aspal sangat tinggi melebih batas, atau bahkan hujan salju. Semua faktor x ini sangat diperhitungan di sirkuit. Ditambah lagi, faktor perintang di sirkuit haruslah 0, artinya tidak ada penyebrang jalan, tidak ada kendaraan lain di arah sebaliknnya atau bahkan hewan-hewan yang melintas. Berbeda jauh dengan jalanan umum, dimana faktor x -nya sangat banyak. Balap MaxTT pun yang dilakukan di jalanan umum pun sudah mencoba mengeliminasi faktor x yang ada.

Kepastian faktor x yang dibuat zero inilah yang membuat para rider MotoGP, WSBK, WSS atau ajang balap resmi lain jadi semakin percaya diri memacu kendaraannya diatas sirkuit, ditambah motor yang mereka gunakan adalah spesifikasi balap. Sektor ban adalah yang paling vital, dimana ban yang digunakan berbeda sesuai peruntukannya. Ketika kering menggunakan ban dengan kontur botak, ketika hujan ban yang digunakan beralur, atau bahkan ketika kondisi aspal sedikit basah tapi tidak juga kering, ban intermediete yang digunakan.

Saya punya pengalaman buruk, crash saat cornering, namun ketika itu saya diposisi boncenger. Saat itu saya dibonceng saat perjalanan touring Purwokerto menuju Jakarta dengan motor Honda Tiger. Ketika masih belum jauh dari Purwokerto, masih di wilayah Banyumas, kondisi jalanan di sana memang mendukung sekali untuk cornering. Sampai tiba di suatu cornering yang potensial. Entah, di sana ternyata ada ceceran solar di tengah jalan. Motor yang kami tumpangi pun selip, sempat mencoba mengembalikan keseimbangan, namun kondisi saat itu sedang menikung akhirnya kami pun crash, saya terpental terseret ke sisi seberang jalan, dan drivernya terseret ke sisi kiri jalan (gravel). Saya beruntung, ketika terlempar kondisi jalanan dari arah sebaliknya sepi, karena juga kondisi tanjakan jadi kendaraan otomatis melambat. Saya pun selamat begitu pun dengan driver, saya beruntung tidak luka sedikit pun, sedangkan sang driver harus luka dibagian jari jemarinya. Kondisi motor pun rusak. Ya itulah, pengalaman dan sekaligus resiko berconering di jalanan umum, dimana faktor x sulit diprediksi.

Dari sebab itu, sangat tidak disarankan bagi kita melakukan cornering di jalanan umum. Resikonya bukan hanya terhadap kita yang melakukan tetapi juga pengendara lain. Seperti kasus lain, biker yang gasruk di daerah Monas, Jakarta Pusat, akibat melakukan cornering di lokasi yang bukan seharusnya. Korbannya tidak hanya pelaku, tapi juga pengendara lain.

Jika rider balap resmi yang mengalami gasruk di sirkuit, kita yang nonton pasti akan iba. Tapi sebaliknya, ketika ada biker yang cornering di jalanan umum dan jatuh, pasti akan mendapat cemooh dan makian orang-orang di sekitar. Apalagi ketika jatuh, mengorbankan orang lain, sudah pasti sumpah serapah diterima si pelaku. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga.

Saya sendiri pun ketika melakukan cornering di jalan umum sudah memahami situasi ini, dan sudah siap dengan resikonya. Oleh karena itu, saya sangat berhati-hati. Melihat situasi jalan, ramai atau tidak, kondisi aspal, serta memperhatikan faktor x dimana saya akan mencoba cornering. Meski hanya pakai motor matic Vario 110 2001, sensasi cornering lumayan lah. Apalagi dulu, pakai New Vega R 2006, sampai merasakan footstep motor tergasruk aspal. Sensasinya memang hanya bisa dirasakan diri kita sendiri sih.

Namun semakin hari kondisi jalanan yang tidak lagi bersahabat, membuat saya mulai sadar untuk berhati-hati. Pilihan untuk tidak melakukan cornering ala-ala rider balap sirkuit sepertinya harus dipilih. Apalagi, belakangan ini banyak korban dari aksi ala-ala "rossi" ini. Dari korban luka bahkan sampai korban tewas. Motor yang digunakan pun beragam, dari motor bebek, sport, matic hingga motor gede. Sebagai contoh biker yang jadi korban di bundaran Pondok Indah yang menggunakan motor besar Suzuki Hayabusa (cek di sini), karena gagal mengendalikan motornya, sampai harus menghantam separator hingga menyebabkan sang rider tewas di lokasi. Contoh lain kasus yang baru-baru ini terjadi di Monas, pengendara motor sport R15 harus tersungkur ketika sedang melakukan aksi cornering. Ada lagi juga kasus biker scutik vespa atau sejenisnya, yang blandrang ketika cornering harus tertabrak mobil dari arah sebaliknya, untung saja si pengendara tidak mengalami cidera serius. Masih banyak lagi kasus-kasus lain biker yang gagal cornering, baik yang terekam kamera maupun yang tidak.

Berikut ini beberapa rekaman video yang sempat direkam, bisa lihat melalui kanal youtube dan kanal berita daring:

R15 gasruk, simak di sini
https://oto.detik.com/catatan-pengendara-motor/d-3649777/lagi-nikung-ala-rossi-di-jalan-raya-bikin-pemotor-tumbang

Vespa blandrang, simak beritanya di sini
https://oto.detik.com/catatan-pengendara-motor/d-3642570/belaga-nikung-ala-rossi-pemotor-ini-malah-nabrak-mobil

Motor Hayabusa yang ringsek di Pondok Indah 24-4-2017
http://www.modifoke.info/modifikasi/tewas-di-pondok-indah-pakai-motor-3-kali-lebih-kencang-dari-toyota

Video gagal cornering yang terekam kamera 'tersembunyi'

Lihat dimenit 9:40an, crash lagi

Anak muda pecicilan

Lagi, crash di Monasco, lihat dimenit 7:36

Lagi dan lagi, lihat dimenit 3:16

Nah, habis nonton dan baca berita seputar biker gagal cornering, apakah masih mau coba-coba cornering di jalanan umum? Apalagi ketika kondisi jalanan sedang ramai? Kalau masih mau, silakan tambahkan video anda selanjutnya, kalau bisa jadi aktor utamanya yah. Kalau saya mah ogah, lebih baik jadi penonton saja, duduk manis sambil makan cemilan.

Baiklah, hati-hatilah berkendara. Aksi cornering ala rider balap sirkuit boleh-boleh saja, asalkan dilakukan di lokasi yang tepat dan seharusnya. Minimal jika anda tidak menghiraukan keselamatan diri anda, perhatikanlah keselamatan pengendara lain. Karena mereka ingin selamat selama berada di jalan. Meski berbeda tujuan dengan anda, hormatilah keputusan mereka. So, jadilah pengendara motor yang cerdas. Selamat berkendara, tertib di jalan, demi keselamatan bersama.cpr.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sani Dewa Pelindung Saturnus

Trip Balik, Mof – Makassar – Surabaya – Cirebon (1)

Pengadilan dan Kejaksaan Negeri untuk Proses Ambil Sitaan Tilang