Realitas Adegan Sadisme Tak Layak Ditonton

Perkembangan teknologi informasi saat ini sangatlah cepat. Suatu kejadian yang terjadi di suatu tempat, informasinya bisa tersebar dengan begitu cepat. Baik itu kejadian kriminalitas, kecelakaan, humor/ adegan guyonan atau bercandaan, bahkan hingga adegan syur dapat tersebar begitu cepat.

Cepatnya informasi tersebar ini ada yang membawa pesan positif ada pula yang memanfaatkannya untuk menyebarkan hoax atau kabar yang belum tentu bisa dipastikan kebenaran deskripsinya. Jadi memang kembali kepada kita pengakses informasi tersebut.

Saya bukan termasuk yang anti terhadap informasi, baik yang hoax atau yang benar realita. Karena, saya yakin masih bisa mengolah informasi yang saya terima dengan baik, informasi bernada provokatif atau informasi tidak benar saya masih mampu membedakannya, dan lebih ke konsumsi pribadi. Jadi, mau diluar berkata apa, saya tidak ambil pusing sebenarnya.

Tapi ada satu konten yang tersebar melalui sosial media instan, yang terkadang dikirim melalui chat berisi video atau gambar tentang kekerasan atau sadisme, kecelakaan yang memakan korban jiwa kekerasannya lebih ke verbal dan fisik secara kombinasi, saya agak sedikit terpengaruh. Terutama ke psikologis, saya agak merasa pusing atau tidak enak.

Seperti contoh video yang pagi ini saya terima melalui pesan whatsapp, ada seorang ibu yang tengah masuk ke bilik ATM untuk mengambil uang, kebetulan biliknya hanya berukuran terbatas mesin ATM. Tidak lama, masuklah pria lalu kemudian menutup rolling door gerai ATM tersebut. Sehingga apa yang terjadi di dalam tidak bisa diketahui orang lain di luar. Pria ini sepertinya melakukan tindakan kriminal terhadap si ibu, si ibu ini nampaknya berusaha "melawan", hingga terpojok di sebuah sudut dimana jadi sedikit blind spot untuk kamera cctv. Pria kriminal ini mengeluarkan senjata tajam, sepertinya parang. Mungkin cara "damai" tidak mempan, si pelaku kriminal ini melakukan kekerasan dengan membacok si ibu ini hingga beberapa kali, hingga si ibu tak berdaya. Memang tak tampak bercak darah tersembir, namun dari gerak-gerik pelaku yang berusaha menyeka parangnya dan mengelap cipratan darah ke bajunya. Gambar cctv yang hitam putih, meminimalisir kebrutalan si pelaku.

Meski begitu, apa yang saya lihat cukup membuat psikologis saya terganggu untuk beberapa menit bahkan hingga sejam. Ada rasa kesal dan jengkel terhadap pelaku, andaikan yang bersangkutan terkena amuk massa, saya tidak tahu bagaimana wujudnya. Karena dengan tega melukai orang lain, jadi menurut saya, si pelaku pun layak mendapatkan setimpal atas yang dia lakukan. Tidak ada alasan pembenar apapun ketika seseorang melakukan kekerasan bahkan hingga melukai orang lain, malah mungkin hingga menghilangkan nyawa.

Contoh lain yang bisa membuat saya terganggu akibat tayangan korban laka lantas, yang setengah mati atau mati konyol di jalanan, dengan bersimbah darah. Bahkan ketika saya mengetik catatan ini pun, psikologis saya pun terpengaruh dengan mengingat beberapa tayangan yang sempat saya lihat dulu. Apalagi jika melihat tayangannya kembali, pasti akan sangat terganggu. Bukan ke mimpi buruknya, tetapi lebih ke mual, enek dan rasa pusing di kepala.

Contoh lain yang tidak mengerikan, namun bisa juga menganggu adalah kekerasan antara satu manusia kepada manusia lain. Entah apapun masalah yang mendasarinya, entah tawuran, kelahi di jalanan karena laka lantas atau bahkan emosi pasangan yang memergoki pasangannya indehoy di kamar hotel. Kekerasan fisik tersebut cukup mengganggu, apalagi dilakukan dengan emosi tingkat tinggi tanpa mengenal ampun. Padahal, apa yang ditimpakan kepada si pelaku, masih bisa dibicarakan atau dimusyawarahkan. Tapi kekerasan yang dilakukan bak membalaskan dendam kesumat, darah dibalasa darah, nyawa dibalas nyawa.

Saya sendiri sebenarnya tipe orang yang agak kepo, ingin tahu. Tapi belakangan ini kemauan untuk ingin tahu tidak diimbangi mental yang cukup baik untuk mengkonsumsi hal tersebut. Pada akhirnya saya harus menyadari kemampuan diri saya. Dan, memang tayangan seperti itu tidaklah pas dikonsumsi umum. Mungkin, jika ingin tahu, bisa masuk ke forum-forum tertentu yang sifatnya terbatas, jadi mental sudah disiapkan untuk itu.

Memilah-milah informasi yang masuk bisa jadi solusi menghindari rasa tidak nyaman akibat mengkonsumsi hal-hal yang berbau kekerasan atau sadisme. Harapannya, kedepannya, gunakanlah akal, pikiran dan hati dalam bertindak, hindarilah kekerasan apalagi kejahatan terhadap siapapun. Gunakan akal sehat, kurangi emosi dalam menangani masalah, oke emosi bolehlah, tapi jangan salurkan emosi ke dalam perilaku aktif, kendalikan dengan baik. Menciptakan suasana damai dan humanis pasti akan tercipta jika tiap kita sadar akan hal ini. Hentikan kekerasan, untuk dunia yang lebih indah dan damai.cpr

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sani Dewa Pelindung Saturnus

Trip Balik, Mof – Makassar – Surabaya – Cirebon (1)

Pengadilan dan Kejaksaan Negeri untuk Proses Ambil Sitaan Tilang