Sindrom Tekanan Udara di Pesawat

Sindrom di Atas Pesawat, itulah catatan saya kali ini. Sebenarnya sudah ingin saya mencatat soal pengalaman saya ketika melakukan perjalanan dengan pesawat, namun baru saat ini saya ada waktu menuangkannya di Naturality. Sindrom yang saya alami ketika melakukan perjalanan dengan pesawat terbang bisa saja berbeda dengan yang orang lain alami. Kalaupun ada kesamaan ya bisa untuk wadah sharing, ataupun misalkan berbeda bisa juga disharingkan di sini, toh pengalaman bisa dialami siapa saja, tanpa ada paksaan untuk mengalami hal yang sama, bukan begitu?

Nah pengalaman penerbangan yang saya rasakan adalah sindrom tekanan udara. Baik pesawat besar atau pesawat kecil, efeknya sama saja. Tetapi waktu penerbangan pertama kali sindrom tekanan udara ini tidak begitu saya rasakan. Sindrom tekanan udara ini saya rasakan berlebih di bagian telinga, baik kanan-kiri. Jadi bindeng gitu, bahkan seperti udara menekan ke telinga lalu ke kepala. Sampai-sampai saya tidak bisa mendengar suara-suara. Sindrom ini saya alami ketika penerbangan akan landing. Kalau ketika take-off sih tidak dirasakan sindrom tekanan udara ini, malah yang dirasakan sensasi seperti roller coaster, terutama lebih dirasakan waktu naik pesawat ukuran kecil. Mungkin hal yang saya alami juga dialami penumpang yang lain. Saya mendapat tips dari teman sesama penumpang, yang menganjurkan untuk menutup hidung dan membukanya, serta melakukan pernafasan lewat mulut, sambil hidung ditutup dan dibuka. Efek yang saya lakukan itu tidak banyak membantu, tapi ya setidaknya mengalihkan konsentrasi saya terhadap sakit yang mendera telinga dan kepala. Nah, yang saya takutkan apakah yang saya alami itu berbahaya? Berbekal dari ketakutan saya itu saya coba cari informasi soal yang saya alami ini di Google dan saya mendapatkan informasinya. Di sini saya coba catatkan.

Ternyata yang keadaan saya alami itu dinamakan Oklusi Tuba, yaitu keadaan dimana terjadi sumbatan pada saluran tuba yang ada di telinga. Tuba eustachius adalah saluran yang dimulai dari telinga tengah dan berakhir di belakang hidung atau di daerah pangkal tenggorok. Apabila terjadi perubahan tekanan maka saluran ini akan membuka dan membiarkan udara masuk ke telinga tengah sehingga tekanan menjadi seimbang. Keadaan ini terjadi apabila pesawat akan take-off, landing, atau saat pesawat merubah ketinggian secara cepat. Biasanya yang dilakukan jika hal ini terjadi, kita akan menelan ludah, dengan menelan ludah ini akan menyebabkan tuba terbuka dan udara luar dapat masuk ke telinga bagian tengah.

Pada orang-orang tertentu dengan ganggguan di saluran tuba atau yang lagi terkena flu/ pilek akan terjadi kesulitan untuk menyeimbangkan tekanan udara yang ada di telinga dan udara yang ada di luar. Gangguan yang dialami ini akan menyebabkan udara sulit masuk ke telinga bagian tengah dan berakibat telinga bagian tengah menjadi vakum, pada keadaan seperti ini saluran tuba akan merespon dengan memperkecil ruang telinga dan menarik jaringan sekitarnya agar tekanan agak seimbang dan respon ini menyebabkan rasa nyeri luar biasa pada telinga dan merembet ke kepala. Solusi untuk mengurangi permasalahan ini adalah disarankan untuk bila hendak naik pesawat, apabila kita mempunyai gangguan di saluran tuba atau lagi terkena flu/ pilek, untuk menggunakan obat tetes hidung yang berfungsi membuka saluran tuba. Bisa juga menggunakan obat dekongestan dengan sistem oral/ diminum. Untuk obat tetes hidung digunakan dengan meneteskan cairan pada hidung kanan dan kiri. Setelah diteteskan kepala harus dimiringkan ke arah yang sama selama kurang lebih lima menit. Jadi apabila cairan akan diteteskan ke hidung sebelah kanan, maka kepala dimiringkan ke kanan agar cairan masuk ke rongga telingga sebelah kanan juga. Apabila berada di pesawat selama lebih dari delapan jam, hal yang sama bisa dilakukan lagi. Cara lain yang bisa dilakukan adalah mencoba menelan ludah terus menerus, atau cara yang mudah adalah dengan mengulum permen.  Cara lainnya adalah dengan menguap, karena dengan menguap maka udara akan keluar dari telinga sehingga tekanan akan terjaga.

Hal yang sama juga bisa dialami pada balita atau bayi. Untuk mengatasinya yaitu dengan memberikannya minum yang banyak ketika pesawat berada di udara. Terkadang bayi atau balita rewel ketika sedang berada di pesawat, bisa saja mereka mengalami gangguan tekanan udara ini. Solusinya adalah dengan memberikan minum atau susu. Logikanya sama seperti yang sudah dijelaskan di atas. Ada tips dari orang tua jaman dulu bahwa ketika sebelum naik pesawat telinga bayi atau balita disumpel dengan kapas agar tidak mengalami gangguan tekanan udara, namun hal itu sebenarnya tidak berguna sama sekali, untuk megurangi suara bising bisa saja dilakukan, tapi bila maksudnya untuk mengatasi gangguan tekanan udara pada telinga sangat tidak efektif.

Informasi yang saya catatkan di atas saya peroleh dari blog, Kolom Kesehatan, dengan judul "Kenapa Telinga dan Kepala Sakit Bila Naik Pesawat Terbang". Informasi yang lebih lengkap bisa kunjungi langsung di blog tersebut. Yang saya ambil adalah catatan yang saya butuhkan saja. Semoga informasi bisa bermanfaat, terutama buat saya pribadi, jika saya kembali terbang, dan saya bisa membagikan tips ini ke sesama penumpang yang mungkin mengalami permasalahan yang sama. Semoga bermanfaat (^_^)?

Comments

Popular Posts