Riewehnya Keluarga Katolik Membawa Anak Misa Bersama

Misa sore ini, saya dan umat lain dibuat terganggu, atas kegaduhan dari satu keluarga yang duduk tepat di bangku depan saya. Keluarga ini terdiri dari ayah ibu dan kedua anak laki-lakinya yang berusia sepantaran, mungkin hanya selisih beberapa bulan tidak lebih setahun (4-5 tahun).

Ya namanya anak-anak, usia bermain, jadi setiap waktu, di tempat mana saja, bermain adalah 'makanan' sehari-hari. Ada saja tingkahnya selama misa, entah bermain dengan saudaranya, melakukan aktivitas sendiri yang kesemuanya tidak cocok dilakukan disaat sedang ibadah. Kedua orang tuanya memang tidak diam begitu saja, mereka pun coba memberi tahu, memberikan 'sentuhan', hingga gestur tertentu. Tapi tidak membuat anaknya tenang, sedari awal hingga akhir misa.

Sangat menganggu sekali, umat di sebelah saya, nampak melakukan gestur tertentu untuk mencoba mendiamkan si anak namun tidak berpengaruh. Umat lainnya nampak memperhatikan dari kejauhan dengan tatapan yang berbicara, "bawalah keluar, daripada mengganggu umat yang lain". Saya yang tepat di belakang kegaduhan, hanya coba berkonsentrasi, dan mengamati dan berpikir mengambil pelajaran dari apa yang saya lihat. Terlihat, mungkin ayah dan ibunya memanjakan anak, terlihat si anak ini tidak takut pada gestur orang tuanya, yang menandakan apa yang baik dan buruk yang boleh dilakukan di situasi tertentu. Umur yang terpaut dekat, membuat sang kakak pun tidak punya pengaruh apapun ketika orang tua mereka sudah memberi tahu.

Inilah, riewehnya keluarga Katolik ketika membawa serta anak-anak ikut misa. Ada baiknya, mengajak anak mengenal liturgi ekaristi. Namun tidak ada artinya ketika tidak ada pesan apapun yang orang tua ajarkan selama misa berlangsung, karena orang tuanya sibuk mengkonsentrasikan diri mereka sendiri saja, tidak mengajak anak-anak mereka melakukan hal yang sama. Belum lagi, kebiasaan yang membiasakan membawa bekal ketika misa, dari segala macam makanan kecil, sepertinya hendak berpiknik. Bunyi kresak, kresek, kletak, kletuk menemani selama misa. Bukankah ini menganggu? Apa benar membuat anak tenang selama misa dengan cara seperti itu? Hal ini dilakukan kebanyakan keluarga Katolik sekarang ini, hasil pengamatan selama ini.

Saya memang belum berkeluarga dan mempunyai anak, tapi setidaknya saya bersyukur diberikan pelajaran berharga dari apa yang saya lihat.

Keluarga Katolik muda semakin berkembang di setiap paroki. Dibuktikan dengan makin banyaknya generasi penerus iman Katolik yang datang berserta keluarganya setiap minggunya. Bahkan perlu waktu yang tidak sedikit untuk berkat anak, karena begitu banyaknya anak-anak kecil. Yesus pernah bersabda, "Biar anak-anak datang kepada Ku". Tapi bukan berarti perayaan misa tiap minggu harus ditemani dengan kegaduhan? Inilah tugas orang tua Katolik, mengarahkan anak.

Solusi pihak paroki sudah memberikan informasi diawal misa agara orang tua mengajak anak mengarahkan anak selama misa. Kemudian paroki pun coba memberikan solusi lain dengan mencoba mendidik anak dimasa bermainnya dengan sekolah minggu. Ketika orang tua ibadat, anak-anak mereka yang sedang masa pertumbuhan ini di tempatkan di sekolah minggu, karena di sini mereka akan diajarkan bagaimana bermain dan bagaimana beribadah. Namun sayangnya, kembali lagi ke pengetahuan dan cara pikir orang tua Katolik kebanyakan tidak sejalan. Mereka tidak mengajarkan bahwa sekolah minggu ini penting, tidak masalah ketika peran sekolah minggu bisa dilakukan orang tua di rumah, sehingga ketika anak dibawa ke gereja, tidak sulit mengarahkan anak untuk khidmat dalam beribadah.

Solusi lainnya adalah mendidik kembali ketika kursus pernikahan Katolik, perlu diberikan materi khusus parenting yang lebih dalam, bagaimana mendidik dan mengarahkan anak dalam beribadah. Karena dibuktikan, banyak keluarga muda Katolik yang tidak punya kemampuan itu pada kenyataannya. Wajar saja, karena mereka pun belum bisa mencontohkan dan memahami yang baik.

Solusi lainnya, ketika suasana tidak kondusif, segeralah bawa anak keluar, berikan pengertian di luar, sehingga tidak semakin mengganggu umat yang lain dengan membiarkan tetap di dalam gereja. Karena sangat menganggu.

Ingin rasanya mendokumentasikan semua yang saya lihat hari ini, sebagai contoh keluarga Katolik yang lain. Tapi, saya urungkan niat saya itu dan saya dokumentasikan melalui catatan ini saja. Supaya dikemudian hari, ketika saya mendapat amanah untuk itu, saya tidak melakukan kesalahan yang sama.

Ada pula keluarga Katolik yang lain yang memberikan contoh yang baik, namun tidak banyak. Kegaduhan kecil, sangat menganggu. Jadi, nila setitik rusak susu sebelanga.
Jadi, mungkin saja banyak keluarga Katolik yang bisa jadi contoh, namun karena mereka yang kurang baik, jadi seakan-akan semua sama. Tapi, sebenarnya masih ada juga yang baik dan saya pernah menemukannya, keluarga yang lebih besar, dengan tiga anak, 2 laki-laki dan 1 perempuan. Memang jarak umurny agak jauh, ya mungkin 1-2 tahun. Posisi duduk yang tepat, membantu orang tuanya memberikan arahan yang baik terhadap anak-anaknya. Dan kemungkinan besar, orang tuanya memberikan pendidikan yang baik di rumah, dalam bersosialisasi di rumahnya, sehingga anak-anaknya mampu menempatkan diri, meskipun saya lihat si anak ini berpitak lebih dari satu (yang dianggap sebagai anak yang hiper aktif), namun mungkin cara mendidik yang baik dari orang tuanya ini mampu mengarahkan untuk membedakan mana yang baik dan buruk.

Semoga, jadi pelajaran bagi kita semua, terutama keluarga-keluarga muda, ketika membawa anak serta ke dalam gereja. Ajarkan mereka beribadah dengan baik. AMIN.

Komentar