Sabtu, 18 Agustus 2012

Mudik dengan Sepeda Motor



Mudik sudah menjadi ritual tahunan bagi sebagian masyarakat Indonesia sebelum menghadapi hari raya Idul Fitri. Karena dilakukan hampir sepanjang tahun, mudik menjadi sebuah tradisi. Sehingga bila tidak melakukan mudik seperti ada yang 'kurang' bagi sebagian orang. Terutama bagi mereka yang jauh dari sanak keluarga.
Bila kita membahas tentang mudik, hal yang terpikir adalah moda transportasi apa yang akan digunakan. Pemerintah menyediakan moda transportasi umum untuk menunjang prosesi mudik setiap tahunnya. Ada yang menggunakan layanan kereta api, bus antar kota antar propinsi, pesawat terbang, kapal laut, dan ada yang menggunakan kendaraan pribadi.
Mengenai penggunaan kendaraan pribadi ada dua moda yang bisa digunakan, bisa dengan mobil atau motor. Motor merupakan moda transportasi yang paling banyak digunakan masyarakat. Soal efisiensi dan praktis merupakan alasan kenapa motor jadi pilihan. Meskipun resiko bahaya bisa setiap saat menghantui. Menurut data dari tahun ke tahun, memang pemudik motor lah yang sering jadi korban lakalantas. Korbannya juga cukup banyak, baik korban tewas maupun luka-luka.
Pemerintah sendiri menyarankan untuk tidak menggunakan motor sebagai moda transportasi mudik. Mengingat tingginya resiko lakalalin. Pemerintah pun mengeluarkan batasan-batasan bagi pemudik motor, seperti pemudik motor dilarang membawa penumpang lebih dari dua dan membawa barang melebih kapasitas, dengan penambahan bagasi-bagasi yang over capacity. Bagi keluarga, disarankan agar anak dan istri dapat menggunakan moda transportasi lain.
Meski himbauan dari pemerintah sudah gencar dilakukan, pemudik motor tak terlalu memperhatikannya. Bagi mereka yang kesulitan bujet untuk mudik, membawa keluarga dalam satu motor jadi pilihan terakhir. Yang terpenting bagi mereka adalah selamat sampai tujuan, alon-alon asal klakon. Mudik dengan motor memang jauh lebih efisien serta dipastikan mampu melibas kemacetan. Resiko yang dihadapi pemudik motor adalah paparan panas matahari yang terik ketika siang, terpaan angin, serta rasa kantuk akibat kelelahan.
Saya pernah merasakan mudik engan motor. Memang, saya akui, resiko mudik dengan motor sangat tinggi. Karena keselamatan kita juga bergantung dari orang lain. Seringnya terjadi, lakalalin motor adalah lalin berjamaah atau laka beruntun dengan pengendara lain. Jadi bila ada yang tak tertib bisa menyebabkan resiko bagi pengendara lain. Kemudian soal kantuk dan kelelahan yang jadi pengganggu, sikon siang hari yang terik sangat mengurangi konsentrasi. Istirahat jadi pilihan ketika dua hal itu menyerang.
Bagi saya, mudik dengan apapun itu silakan saja. Meski motor memang bukan diperuntukan melintas jarak yang terlalu jauh. Tapi, bila dihadapkan dengan bujet, apa boleh buat. Yang terpenting adalah tetap berhati-hati, keselamatan adalah yang utama. Bila ada bujet lebih, mungkin moda transportasi umum seperti kereta api lah yang jadi pilihan, tidak yang lain. Kenapa? Hanya kereta api yang memberikan jaminan waktu kapan sampai. Tidak seperti mudik dengan bus, atau mobil pribadi via jalur darat yang kerap dihantui kemacetan tiada tara.
Mudik dengan motor pun diharapkan selalu memperhatikan hal-hal berikut, yaitu perhatikan kesiapan fisik pengendara; kemudian bawalah barang-barang seperlunya, jangan sampai over capacity; perhatikan pula kesiapan fisik kendaraan; persiapkan pula sparepart cadangan seperlunya; atur waktu pola istirahat; perhatikan perlengkapan keamanan berkendara alias safety riding; camkan dalam pikiran kita bahwa keselamatan kita juga merupakan keselamatan orang lain. Bila hal-hal itu diperhatikan, mudah-mudahan mudik dengan sepeda motor tidak kalah aman dibandingkan mudik dengan moda yang lain. Cpr.

1 komentar:

  1. *ralat : bukan sepanjang tahun, tetapi setiap tahun (pada kalimat paragraf pertama), saltik, maklum.

    BalasHapus

Tinggalkan jejak, jika anda mampir ;p Terima kasih atas kunjungannya - cocoper6